Asal-muasal Agama Sungai

Aku tak yakin dengan penjelasan tersebut. Dugaan yang para petugas sebut terkait binatang buas atau gangguan alam di pegunungan yang ada tidak jauh dari sungai itu, sempat dipercayai selama beberapa waktu, hingga datangnya lelaki ketiga yang terluka dan mati dengan cara lebih aneh: di perutnya tertancap beberapa bilah pisau kecil dan kami sempat mengeluarkan beberapa butir peluru dari paru-parunya. Binatang liar, apa pun itu, tak mungkin melakukannya.

Sayangnya orang-orang desa telanjur muak pada petugas yang tidak pernah serius menanggapi laporan kecuali yang memberi mereka peluang untuk mengeruk sebanyak mungkin uang atau emas dari korban atau pelaku kejahatan tertentu. Maka, kami semua sepakat untuk tidak lagi melapor.

Sembilan tahun berlalu. Kematian demi kematian terus terjadi dan teka-teki soal ini belum juga terungkap hingga aku sendiri mulai merasa terbiasa dan sering kali terpikir, di beberapa kesempatan, bahwa jika suatu kali kutemukan seorang lelaki berdarah-darah merangkak menuju desa kami dari arah sungai dan pegunungan, maka itu tandanya aku harus berbuat kebaikan sekali lagi untuk orang lain, meski pada akhirnya kebaikanku itu sia-sia belaka.

“Mereka tetap mati dan begitu takdir menggurat ketentuannya di sungai dan desa ini,” demikianlah pikiranku berkata.

Sungai itu tidak lagi jadi sungai biasa setelah kematian orang ke sekian. Ia tempat yang sakral dan beberapa orang desa memutuskan untuk berdoa di sana untuk mendapat keselamatan. Mereka percaya, kami, orang-orang asli desa ini, dapat tetap hidup dan tak menjumpai binatang ganas atau pembunuh atau apa pun di luar sana yang menghabisi sebelas lelaki asing tadi, adalah karena kami telah mendapat kebaikan dari apa pun atau siapa pun itu yang belum kami tahu. Maka, kami patut berterima kasih.

“Sungai ini batas antara kehidupan dan kematian,” begitu tutur beberapa sesepuh di depan kami. “Barang siapa yang tidak dikehendaki untuk pergi menyeberangi sungai ini untuk mencapai hutan dan pegunungan di depan, tak akan kembali dengan nyawanya!”

Beberapa orang kemudian mengganti sesembahan mereka; mereka mulai giat pergi ke sungai untuk menyembah batu-batuan, rerumputan, pepohonan, ikan-ikan, katak dan ular, belalang, semut, kadal, dan segala yang tersedia di sungai tersebut, dan ini terlihat begitu serius karena orang-orang tadi mulai membangun tembok agar tidak ada seorang pun yang mampu menyentuh air sungai keramat kecuali untuk keperluan sembahyang. Dalam waktu yang tak berapa lama, sungai itu berubah menjadi kuil dan tentu saja kuil yang terlihat begitu aneh, karena di balik lantai papan kayunya terdapat air sungai yang mengalir begitu jernih dan deras.

Arsip Cerpen di Indonesia