Aku tidak berminat melanjutkan perdebatan. Malam itu juga aku diusir dan sejak itu aku tidak lagi kembali ke desaku. Sungai yang sejak kecil merekam kenangan indah dan terbaik dalam hidupku itu, yang kemudian menorehkan memori buruk soal sebelas manusia asing yang terluka dan mati secara misterius, tetap bertahan di pikiran hingga bertahun-tahun kemudian. Dalam pada itu, aku telah hijrah ke tempat yang jauh, ke kota yang besar dan modern dengan orang-orang yang peduli hanya pada hidupnya sendiri.
Perihal apa yang menyebabkan sebelas lelaki asing tadi terluka dan mati, aku tidak tahu hingga suatu hari, tanpa sengaja kudengar dari seorang yang kukenal di kota besar, bahwa dirinya tak lagi ingin hidup sebagai manusia kota.
“Aku ingin hidup di tempat yang jauh dari sini, di sebuah pegunungan yang sangat terpencil. Banyak yang sudah melakukannya. Kabar ini kudengar dari ahli spiritual yang tempo hari mengadakan seminar di sela waktu sibukku. Orang-orang ini tidak butuh apa pun selain tekad dan keberanian, dan memang itulah yang terjadi. Mereka benar-benar sembuh dari luka masa lalu. Mereka bahkan tidak lagi dapat terluka, karena yang tersisa dari mereka hanyalah arwah-arwah yang tenang dalam keabadian.”
Gempol, 25 Desember 2018
Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Buku-buku karyanya, Museum Anomali (Unsa, 2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).