Asal-muasal Agama Sungai

Agama baru ini, bagiku sendiri, sangat membuat repot. Agama baru yang tak perlu hanya karena ketidaktahuan orang-orang tentang sumber kematian para lelaki asing tadi. Sebagian besar anggota keluargaku memilih patuh pada wejangan para sesepuh dan ikut pergi ke kuil baru tersebut. Aku sendiri yang tidak pernah tertarik untuk ikut dan malah merasa jengkel karena tanpa sungai itu, kini kami harus mengusung air dari lokasi lain, dari suatu danau yang terletak cukup jauh dari desa agar bisa memenuhi kebutuhan akan air setiap hari. Ini pun harus membayar sejumlah uang karena danau tersebut berada di wilayah yang dikuasai oleh para petugas berwenang.

Pada suatu hari, setelah tahun demi tahun tak lagi ada orang asing yang datang ke desa ini dengan tubuh berlumuran darah, tinggallah aku yang masih menyembah Tuhan lama. Orang-orang sini yakin sebetulnya selama tahun-tahun belakangan ini masih saja ada para pendaki (atau apa pun itu, karena kami tak sepenuhnya percaya omongan para polisi korup dan bejat) asing yang mati karena mencoba pergi ke pegunungan dan hutan itu, tetapi tubuh mereka tak bisa memanjat tembok kuil yang panjang dan tinggi hingga mati di seberang sana tanpa pernah kami tahu.

“Bagaimana jika suatu hari nanti anak-cucu kita menemukan bahwa di balik kuil ini ada begitu banyak tulang belulang manusia? Tidakkah mereka mengira kita hanyalah makhluk egois yang tak peduli pada nyawa orang-orang tersesat?” tanya seseorang suatu ketika.

Tidak ada yang dapat menjawab itu, bahkan para sesepuh yang sedari awal gencar mendirikan agama baru ini dengan disertai ancaman-ancaman mengucilkan siapa pun yang menolak kebenaran versi mereka. Tentu saja akulah yang selama ini tak mendapat keadilan karena hanya aku yang mereka kucilkan. Mengetahui sikap masa bodoh soal kemungkinan adanya jasad para lelaki yang keduabelas, ketigabelas, dan seterusnya itu, membuatku angkat bicara.

Aku katakan di depan orang-orang ini, “Jika benar suatu hari nanti anak-cucu kita menemukan ada banyak tulang belulang manusia di balik tembok kuil kalian, jangan salahkan jika agama baru kalian mendadak tidak populer. Jangan salahkan jika mereka berpaling ke keyakinan lama, lalu menganggap kalian semua nenek moyang yang tidak patut diikuti. Segala bentuk warisan rohani yang tertinggal di sini sama sekali hilang tak berbekas!”

“Itu hanya omongan orang tak tahu terima kasih sepertimu. Alam atau siapalah itu, yang di luar sana telah membiarkan kita hidup, selagi menghabisi orang-orang asing itu, telah berbuat sesuai dengan apa yang seharusnya terjadi. Boleh jadi para pendaki yang dibilang para polisi itu bukanlah pendaki, melainkan para kriminal atau buron yang jelas berbahaya untuk kehidupan para penghuni desa!”

Arsip Cerpen di Indonesia