Beristri Batu

Menit-menit selanjutnya tetap sama. Aku duduk terpekur menyelami hangat senja bersama arca istriku tanpa memedulikan tatapan orang-orang. Sering kali sinar senja yang begitu silau menyinari tepat di wajah arca istriku. Aku bertanya, apa kau ingin aku mengambil payung atau caping untuk menghadang sinar senja? Diam. Tidak ada jawaban. Dengan begitu aku yakin bahwa istriku tidak ingin aku melakukannya, maka aku tetap di posisiku; duduk menekuninya.

Sesekali ada getir yang merambat dari hati ke mata yang menghasilkan titik-titik air mata. Sedikit, karena aku tidak mau menangis di hadapan istriku. Empat tahun bukan waktu yang singkat untuk merenungi dan juga menyesali tindakanku. Aku ingat betul hari ketika istriku melahirkan Jelita. Dalam hati aku bersumpah untuk menjadi suami dan ayah yang bisa melindungi mereka. Aku telah membayangkan sebuah keluarga yang indah, penuh tawa dan kebahagiaan. Namun, nyatanya itu tidak pernah hadir dalam rumah tanggaku. Ini bukan keluarga seperti yang aku impikan sejak awal dan itu karena sifat keras kepala istriku. Kembali aku ingin memaki, mengutuknya sebanyak jumlah umat manusia di bumi.

Baca juga: Beristri Batu – Cerpen Adi Putra Purnomo (Solo Pos, 06 Januari 2019)

Aku ingat pagi pertama kami sebagai suami istri. Aku tersenyum menyambutnya di dapur, tapi istriku mengalihkan pandangan, tidak mau menatapku. Mungkin dia malu, batinku, meski aku menyadari bahwa tatapan itu tidak berubah setelah sekian lama kami bersama. Istriku tidak menginginkanku. Bukan aku yang ingin dia lihat di pagi hari ketika membuka mata. Bukan. Bukan adik dari lelaki yang dia cintai.

Pertemuan pertama kami adalah ketika kakakku mengenalkannya pada keluarga saat berwisata ke Prambanan. Sekar namanya. Dia adalah seorang arkeolog yang tergila-gila dengan candi dan sejenisnya. Seorang gadis yang cerdas dan cantik, dan aku jatuh cinta padanya meski sebenarnya itu tidak pantas. Kakakku telah berencana untuk melamarnya.

Baca juga: Lukisan Jembatan – Cerpen Alif Febriyantoro (Solo Pos, 12 Agustus 2018)

“Tidak apa, bukankah tidak masalah jika aku mencintainya diam-diam? Aku hanya ingin mengaguminya sebagai sesuatu yang indah. Aku tahu diri.” Aku berkeras hati, mesti aku tetap merasa sakit ketika kakakku benarbenar melamar gadis itu dan menentukan tanggal pernikahan. Hati ini tetap merasa sesak dan aku tidak bisa mengendalikan air mataku.

Aku bertanya pada Tuhan, kenapa harus Sekar yang membuatku jatuh cinta? Kenapa harus Sekar yang menjadi pilihan kakakku? Pada akhirnya aku lari; menjauh dari mereka, merantau menyeberangi lautan, hingga kabar tentang kematian kakakku sampai ke telinga di malam yang mendung.

Arsip Cerpen di Indonesia