Sekar tengah menangis di pusara kakakku ketika aku sampai di tanah kelahiran. Orang-orang memberi simpati padaku dan kedua orang tuaku meminta maaf karena tidak bisa menungguku lebih lama untuk melakukan pemakaman. Kakakku dirampok ketika pulang kerja, motornya dicuri dan dia ditusuk beberapa kali hingga tewas, terang keluargaku. Aku mengutuk perbuatan para bajingan itu, meski tatapanku tidak beralih dari gadis di sebelah ibuku. Rasa sedih jelas tergambar di wajahnya yang ayu; matanya sembap terus menerus meneteskan air mata dan sesekali tubuhnya bergetar menahan isak agar tidak pecah.
Terbayang olehku undangan pernikahan yang disebar, gaun pengantin yang telah dipesan dan tanggal yang sudah ditentukan. Dengan izin orang tua, aku melamar Sekar.
“Aku sedang mengandung anak dari kakakmu. Apa kau tidak keberatan?”
Baca juga: Orang-orang yang Jatuh dari Langit – Cerpen Rosyid H. Dimas (Solo Pos, 05 Agustus 2018)
Aku adalah seorang yatim piatu sebelum keluargaku sekarang mengangkatku sebagai anak mereka. Jadi, bagiku sebuah masalah menganggap anak dalam rahim perempuan yang aku cintai sebagai anakku. Maka, aku mengiyakan dan kami melangsungkan pernikahan, meski tanpa senyum di bibir Sekar.
Aku berpikir, hanya masalah waktu saja bagi Sekar untuk membuka hatinya. Bagaimanapun, dia masih berduka atas kematian kakakku. Namun, setelah kelahiran Jelita, bahkan setelah bertahun kami bersama, tatapan itu tidak pernah berubah.
Anakku bertanya, kenapa Ibu tidak pernah tersenyum pada Ayah. Hanya bisa aku jawab dengan senyum dan berkata bahwa seorang malaikat membawa senyum Ibu, jika Jelita menjadi anak yang baik dan cerdas, senyum itu akan dikembalikan.
Bohong. Senyum itu telah lama mati bersama kakakku. Dan aku mulai lelah! Menunggu ada batasnya dan rasa cintaku tidak bisa terus menerus terabaikan.
Baca juga: Perempuan Penggemar Burung – Cerpen Nazil Muhsinin (Solo Pos, 29 Juli 2018)
Aku memohon. Demi Jelita, kataku.
“Tentu saja demi Jelita. Kau pikir demi siapa aku menikah denganmu? Demi anak dalam rahimku, demi statusnya di masyarakat.”
Itu pertengkaran pertama, selanjutnya begitu banyak pertengkaran yang hadir; tentang betapa keras kepalanya istriku mempertahankan cinta untuk seseorang yang telah tiada, tentang keinginanku untuk memiliki hatinya, tentang alasan pernikahan kami.
“Kau pikir aku tidak tahu kalau yang kau yang membunuh calon suamiku? Dirampok katanya, padahal kau yang membunuhnya karena cemburu!”