Beristri Batu

Di dunia ini ada yang namanya batas, dan kali ini adalah batas kesabaranku. Aku kemudian mengerti bahwa sejak awal aku bukanlah menikah dengan seorang perempuan cantik bernama Sekar, melainkan menikahi sebuah batu yang keras dan berhati batu. Aku gelap mata, seperti Bandung Bondowoso yang mengucapkan kutukan pada Roro Jongrang. Aku mengambil vas bunga dan menghantamkannya ke kepala Sekar. Selanjutnya yang bisa kulihat adalah merah di mana-mana. Pada detik itu, aku juga ingat bagaimana aku membunuh kakakku karena cemburu; persis seperti yang dikatakan Sekar.

Baca juga: Penjemput Kesedihan – Cerpen Risda Nur Widia (Solo Pos, 22 Juli 2018)

Akan tetapi, bukankah sebuah cinta artinya harus memiliki? Begitu juga arti cintaku pada Sekar. Maka, aku membakar tubuh moleknya hingga menjadi abu dan aku tabur di antara candicandi dan arca-arca di Prambanan.

“Pertama kali aku jatuh cinta padamu adalah ketika melihatmu di Prambanan. Aku berpikir, mungkin seperti inilah kecantikan seorang Roro Jonggrang hingga membuat Bandung Bondowoso gelap mata. Namun, sepertinya akan lebih baik bagiku mencintai sebuah batu daripada menunggumu yang keras kepala ini; bahkan batu pun bisa retak setelah sekian lama ditetesi air, tapi kau tidak.”

Pada arca-arca di Prambanan ini aku menumpahkan rindu, juga cinta tidak terbalas dan menumpuknya sebagai penyesalan.

 

Bojong, April 2018–Januari 2019

Tiqom Tarra, lahir dan tinggal di Pekalongan. Runner up lomba novelet Loka Media dengan novelet “Renjana” (Loka Media, 2017). Buku kumpulan cerpen perdana “Anak Kecil yang Memamerkan Bayinya dan Orang Dewasa yang Menyimpan Biji Mentimun di Saku Celana” (JWriting Soul, 2018).

Arsip Cerpen di Indonesia