Berita Utama Sebuah Koran

“Semua tentang Jogja, mengingatkanku padamu,” tulis Padmo di salah satu akun jejaring sosial milik Rosianniel.

“Tapi sayangnya aku tidak lagi tinggal di Jogja,” balas Rosianniel waktu itu yang membuka percakapan menjadi lebih panjang.

“Memang lagi di mana?”

“Rahasia. Aku nggak boleh kasih tahu siapa pun!”

“Hmmm, semakin misterius saja kamu.”

“Sayangnya itu sedikit benar.”

Baca juga: Pemburu Gelap – Cerpen Khairul Fatah (Fajar, 02 Desember 2018)

“Jadi kapan kita bisa ketemuan nih?” tanyaku iseng.

“Sayangnya, aku nggak bisa. Tapi semua tentang kamu nggak bisa aku lupa,” jawabnya waktu itu. Padmo berusaha tak menanyakan sesuatu hal lebih jauh karena kata-kata sang mantan kekasih sungguh membuatnya berbunga-bunga.

Sabtu siang di lain hari, entah mengapa Padmo mengorek-ngorek luka lama dan langsung saja Rosianniel menyemprotnya.

“Emang kenapa tanya-tanya begituan?! Itu bukan urusanmu! Lagipula aku tidak merugikan orang lain. Jangan jadi sok pahlawan deh,”

Baca juga: Namaku, Andi Gempa Nulanda – Cerpen Rachmat Faisal Syamsu (Fajar, 14 Oktober 2018)

“Yakin, tidak merugikan orang lain? Kamu sudah ngerepotin wartawan, aparat kepolisian, bahkan satpol PP. Apalagi, menakut-nakuti para pegawai dengan obor bersama kawan-kawanmu itu. Ayo katakan, di mana letak tidak merugikan orang lain seperti yang kamu bilang,” cerocos Padmo panjang lebar. “Kasihanilah keluarga juga nyawamu, kamu beruntung keluar hidup-hidup!”

“Tenang saja, yang penting kaumku kelak terjamin hidupnya,” jawab Rosianniel enteng.

“Semua itu mustahil, Ros. Tengoklah, orang-orang jujur di negeri ini malah diperlakukan tidak beradab,” semprot Padmo berusaha membuat Rosianniel dapat berpikir lebih logis. Sekadar mengingatkan wanita itu, karena akhir-akhir ini cenderung banyak kejadian tragis melanda. Padmo tak mau terjadi sesuatu kepada orang yang ternyata masih dicintainya.

Arsip Cerpen di Indonesia