“Ya, itu makanya harus diperjuangkan. Aku tidak sepengecut mereka, kalian dan KAMU!” seru Rosianniel berapi-api. “Aku dilahirkan berbeda dan takdirku, membela kaum marjinal yang tertindas. Aku terus berjuang menegakkan Hak Asasi Manusia sampai titik akhir,” serunya mantap membuat Padmo khawatir bukan kepalang.
“Sebaiknya kamu urus basket, barbershop dan dunia fotografimu saja,” sahut Padmo. “Ingat, kamu dari keluarga terpandang dan jangan sampai kelewat…”
“Sudah kubilang, AKU bukan pengecuuut!” potong Rosianniel lantang.
Baca juga: Surat dari Korban – Cerpen Maskur (Fajar, 07 Oktober 2018)
Begitulah kata-kata terakhir dari sang pejuang perempuan itu. Rasanya seperti mimpi saja Padmo menyakiti perempuan itu dengan nasihat-nasihat usangnya.
Pagi ini, sebuah Headline News menyiarkan bahwa Rosianniel diculik sekawanan orang tak dikenal.
Rekan sepermainan Rosianniel begitu sangat kehilangan. Apalagi, Rosianniel ikut ambil bagian dalam pertandingan basket putri Indonesia Juli mendatang. Dua karyawan barbershop-nya pun keteteran. Ada yang pincang. Ada yang tidak seimbang, bilamana tiada sosok Rosianniel.
Hati Padmo semakin tak keruan, karena orang-orang yang mengaku senasib dengan Rosianniel, mengaku telah kehilangan kontak sejak tiga hari lalu. Padmo sudah mencoba mencari tahu apa pun mengenai mantan kekasihnya itu.
Baca juga: Kue Bude – Cerpen Rahmawati (Fajar, 02 September 2018)
Berita utama di koran-koran menyatakan bahwa kegiatan Rosianniel, disinyalir mengganggu stabilitas nasional, baikagama, bangsa, dannegara. Aktivis perempuan itu bersikeras membubarkan penganut aliran yang saban hari sanggup berlaku anarkis.
“Indonesia bukan milik salah satu pemeluk agama. Kita sudah dipecah belah oleh oknum sesat. NKRI harga mati!”
Begitu nada yang dibombardir media massa sehari sebelum Rosianniel menghilang secara misterius. Berulangkali kupantau akun jejaring sosial Rosianniel. Bersamaan dengan itu semua percakapan Padmo-Rosi di twitter dirilis sebuah koran lokal. Ini juga berawal dari info beberapa netizen. Percakapan tentang petuahpetuah Padmo ke Rosianniel menjadi fokus utama. Padmo sudah tak peduli beberapa oknum yang membully-nya.