Berawal dari isi pesan mesra, teleponan, hingga pacaran dalam kurun waktu singkat: satu hari jadi. Bercumbu adalah keinginan perempuan itu. Terlebih Junaidi. Mereka berdua sama saja. Sama-sama bandel. Pernah suatu ketika perempuan itu curhat. Dalam curhat itulah tak satu pun ada cerita bahagia. Semuanya berbau sakit tak ubahnya mengiris-iris hatinya.
“Lelaki itu telah mencuri kehormatanku, Jacky. Aku merasa kecewa ketika dirinya menyalahi aturan kata pepatah: habis manis sepah dibuang,” ucapnya berlumur luka. Terlihat di matanya ada kecewa yang sempat diceritakan pada Jacky.
Baca juga: Purnama di Pantai Boom – Cerpen Ahmad Zaini (Radar Banyuwangi, 02 Desember 2018)
Awal mula, perempuan itu tak tahu kalau si Jacky adalah teman dekat Junaidi saat ini. Kabarnya ia sering mengajak Jacky berjalan ke sebuah kampung pada waktu malam dini hari. Kampung itu angker sekali. Tapi Jacky tak pernah menanyakan keinginan Junaidi sebenarbenarnya. Bisa-bisanya ia diajak ke suatu tempat. Malam-malam. Malam itu rembulan mati tersebab kabut menghalangi. Entahlah!
Malam itu malam Sabtu. Tibalah di suatu tempat di saat malam masih menyala. Junaidi melangkahkan kakinya mendaki gunung sendirian. Seolah tak kenal rasa takut. Ia pasrah pada malam gelap gulita. Sementara Jacky hanya ditinggal sendirian. Kali sekian ia lakukan begitu. Bahagialah tubuh Jacky yang menuruti Junaidi. Diberinya satu bungkus rokok untuk dihisapnya di malam itu sebagai teman pengganti sepi. Entah dalam pikirnya Jacky adakah tanya: dirinya ingin bertemu dengan siapa? Atau bisa saja ia ingin bertemu dengan sosok perempuan dambaannya? Rupanya Jacky tak mau tahu. Apa pun yang dilakukan Junaidi, yang terpenting dirinya pulang dengan selamat. Begitulah pikir Jacky kira-kira.
***
Baca juga: Nyaring dan Asing – Cerpen Muhammad Nanda Fauzan (Radar Banyuwangi, 25 November 2018)
Ini malam ke-2. Malam yang membuat perempuan itu dirawat inap di rumah sakit. Ia dirawat sebab penyakit amnesia. Berbagai kasus telah terbongkar semuanya. Usut punya usut, amnesia itu positif berawal dari luka.
Waktu telah menunjukkan pukul 02.30. Di malam itu Jacky diajak bersemadi untuk kedua kalinya dekat rumah perempuan itu. Tanpa sedikit pun memikirkan bahaya. Jacky terima ajakan Junaidi. Ajakan Junaidi rupanya jadi pengalaman terbesar. Sebab pengalaman adalah guru yang terbaik: seperti kebanyakan orang katakan. Namun apa yang terjadi, hujan batu menyirami.