Kisah Anjing Belang

Tiba-tiba…

“Aku bersumpah, tak ingin hidup dan berteman lagi dengan Junaidi.” Jacky kesal.

“Apakah mencuri kenikmatan dengan perempuan-perempuan itu tidak dosa?” Jacky mengumpat keras.

Jejak pagi menyapa daun rumput di sawah. Matahari menyinari laut imaji. Namun, Jacky merasakan sedikit getir pasca mendengar kabar itu. Sontak merasa terpukul di hatinya. Kabar itu terdengar sehari setelah ia ikut Junaidi. Menurut kabar yang beredar: Junaidi telah menyakiti banyak perempuan. Salah satu di antaranya adalah sepupu Jacky saat ini. Apa yang terjadi setelah semuanya tau arah. Apa yang terjadi perihal status pertemanan mereka berdua? Orang-orang sekitar tahu jika Junaidi adalah lelaki penyebar luka, penyihir api dusta. Betapa sadisnya si Junaidi itu. Perempuan itu menangis dan berlinang air mata.

Baca juga: Puputan Bayu: Kenangan Bulan Desember – Cerpen Muhammad Iqbal Baraas (Radar Banyuwangi, 18 November 2018)

Saat itulah Jacky tak mau lagi akrab dan berteman lagi dengan Junaidi. Orang-orang menyebut Junaidi si anjing belang. Semua orang kampung tahu: Hanya Junaidi yang mempunyai karakter pengkhianat. Banyak memakan hati perawan.

“Dasar laki-laki pecundang. Lelaki anjing belang. Apakah Junaidi tak tahu kalau Diana sepupuku?”

Dengan suara begitu keras kudengar nyaring masuk jendela. Suaranya seolah sampai pada luka di tubuh Diana. Perempuan itu semakin parah. Barangkali, dengan mempermainkan perempuan itu menjadi kebahagiaan bagi Junaidi. Kemarahan Jacky semakin membara. Ia lontarkan kobaran api kemarahannya pada setiap orang-orang sekitar. Hingga perempuan itu meninggal dunia, sehari sebelum Junaidi masuk ditahan jerat hukuman.

 

Bungduwak, 18 Juli 2018.

Saiful Bahri, kelahiran Sumenep-Madura, 5 Februari 1995. Selain menulis, ia juga seorang aktivis di kajian sastra, dan “Teater Kosong Bungduwak”. Tulisannya pernah dimuat di beberapa koran lokal maupun nasional. Beberapa puisinya tersiar di sejumlah antologi bersama di antaranya Antologi “Senyuman Lembah Ijen” (2018), “Sepasang Camar-Majalah Simalaba” (2018), Antologi Puisi “Perempuan” yang diterbitkan Mesdia FAM Indonesia, serta menjadi Juara 1 dalam Lomba Cipta Puisi di Media FAM (2018).

Arsip Cerpen di Indonesia