Setiap kali melihat nama Mak muncul di layar teleponnya, jantung Sani selalu bereaksi berlebihan. Rasa cemas mendadak menyelimuti hati dan pikirannya. Begitu juga pagi tadi. Sani baru saja selesai sarapan. Hmm, lebih tepatnya sarapan sekaligus makan siang karena sudah pukul sepuluh pagi.
Baru saja Sani merapatkan punggungnya ke lantai untuk beristirahat, terdengar suara ponsel berbunyi. Dari Mak. Segera ia mengangkatnya. Belum selesai ia mengucapkan assalammualaikum, sudah terdengar suara tangisan Mak di seberang sana.
“Sani! Kepala Mak sakit! Sakit sekali! Mak sudah tak tahan, Sani!”
Sani menggigit bibirnya kuat-kuat. Reaksi alamiah ketika seseorang berusaha menahan tangis yang dipendam. Sani menarik napas kuat-kuat. Ia teguhkan hatinya.
“Bukankah malam kemarin Mak bilang sudah agak mendingan?” tanya Sani.
Sejujurnya Sani tak tahu harus mengatakan apa. Kebingungan melingkupinya. Setiap kali Mak menelepon ia memang lebih banyak diam, membiarkan Mak berkeluh-kesah dan menceritakan semua uneg-unegnya. Dia hanya menanggapi sesekali, dengan kata-kata yang sudah dipilihnya agar tidak menyinggung perasaan Mak. Mak lebih sensitif akhir-akhir ini.
Baca juga: Segelas Teh, Hujan, dan Patah Hati – Cerpen Zulfikar R H Pohan (Serambi Indonesia, 30 Desember 2018)
Selama hampir sebelas tahun ini, Sani menjadi saksi akan sakit yang diderita Mak. Sakit tak kasat mata. Orang-orang menyebutnya saket donya. Guna-guna. Teluh. Santet. Entah apalagi. Sani tak ingin mendefinisikan penyakit Mak dan tak hendak percaya. Ini zaman modern, bahkan dunia sudah mau kiamat. Mana ada orang yang masih melakukan praktik-praktik sesat seperti itu dengan alasan apa pun.
Namun semakin Sani berusaha untuk tidak mempercayainya, seolah semuanya semakin nyata. Mak tak kunjung sembuh. Tak terhitung berapa banyak orang yang sudah berusaha untuk ‘mengeluarkan’ penyakit yang sudah bersarang di tubuh Mak. Banyak di antara mereka menyerah.
“Dikuncinya seumur hidup. Syaratnya terlalu berat. Mungkin belum berjodoh obat dengan saya,” ujar salah seorang penyembuh yang pernah mengobati Mak.
Sani hanya bisa membesarkan hati Mak dengan memintanya bersabar. Mengatakan bahwa Allah tidak akan membebani hamba-Nya dengan cobaan yang tidak sanggup dipikulnya. Sembari itu Mak juga tak pernah putus berobat ke rumah sakit. Sani khawatir zat-zat kimia dari obat-obatan itu akan berdampak lebih buruk lagi bagi kesehatan Mak nantinya.