Mak

Namun dengan segala beban dan kondisi Mak akhir-akhir ini, Sani pun rasanya hampir menyerah. Ia merasa kekuatan dirinya semakin tergerus. Ia merasa seperti lilin yang mencoba bertahan di tengah badai. Cahaya lilin yang kecil dan bergerak liar itu semakin menggerus dirinya. Ia merasa rapuh seperti daun kering. Merasa tak berarti seperti bunga-bunga rumput yang diterbangkan angin.

Sani semakin akrab dengan luka. Ia suka menyendiri. Namun itu membuatnya semakin memaknai keberadaan air mata. Membuatnya tak benar-benar merasa sendiri. Saat ia diliputi kesedihan, air mata selalu hadir untuk melegakan jiwanya. Ia sering menangis diam-diam. Sani harus bisa mengobati lukanya sendiri. Sani tak pernah menangis di depan Mak. Namun entah mengapa, kali ini ia tak berhasil menahan gelegak emosinya. Sani terisak-isak di telepon.

“Jangan menangis, Sani.” Lirih suara Mak di seberang sana. “Jangan menangis…”

“Bagaimana Sani tidak menangis, Mak. Anak mana yang tidak terluka hatinya mendengar ibunya merintih kesakitan seperti itu. Anak mana yang rela melihat orang tuanya menderita seperti itu. Sedangkan Sani tidak bisa berbuat apa-apa.”

Baca juga: Tuba – Cerpen Ida Fitri (Serambi Indonesia, 23 September 2018)

“Maafkan Mak, Sani. Seharusnya kamu yang berkeluh kesah pada Mak. Seharusnya Mak yang menghidupi kalian semua, bukan kamu. Maafkan Mak…”

Tangis Sani kembali pecah. Sani tak sanggup lagi membendung emosinya. Ia mengeluarkan kalimat-kalimat pedas yang entah ditujukan kepada siapa. Sani merasa frustrasi. Ketakutan. Tak berdaya. Rapuh. Seharian itu Sani merasa dirinya sangat kacau. Ia menangis hingga tertidur karena kelelahan. Dalam tidurnya ia seperti didatangi ayah. Memintanya berhenti menangis. Menyuruh Sani pergi ke masjid tua di pinggiran kota.

“Pulanglah…”

Nenek tadi tiba-tiba muncul kembali di hadapan Sani. Sani kembali terperanjat. Lamunannya buyar.

“Nenek masih di sini?”

“Nenek tidak akan pulang sebelum kau pulang, Sani.”

Sani merasa ada yang ganjil.[]

 

Ihan Sunrise adalah anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) dan jurnalis aceHTrend. Penikmat kopi, kata, dan rasa.

Arsip Cerpen di Indonesia