Mak

“Apa cobaan yang Mak rasakan ini masih belum cukup? Mengapa nasib Mak sangat buruk, Sani. Kepedihan demi kepedihan yang Mak rasakan seperti tak pernah ada habisnya.”

Pernyataan sekaligus pertanyaan yang dilontarkan Mak suatu hari itu membuat Sani kehilangan kata-kata. Sani berusaha memahami perasaan Mak dan menguatkan hatinya sendiri.

“Sakit!!! Mak tidak sanggup menahan lagi, Sani…”

Suara tangisan Mak kembali menyadarkan Sani. Air matanya mulai berlinang. Bibirnya bergetar. Hatinya terasa nyeri, perih, seperti luka yang ditaburi garam. Anak mana yang sanggup mendengar jerit tangis ibunya seperti itu. Apalagi dalam kondisi berjauhan seperti ini. Seharusnya Sani ada di sana bersama Mak.

Di saat-saat seperti itu Sani seperti terlempar kembali ke masa lalu. Ayahnya tiba-tiba sakit parah. Hanya dalam waktu tiga bulan ayahnya sudah pergi meninggalkan mereka semua. Sakit yang juga sulit dipahami Sani. Orang-orang menyebutnya guna-guna. Santet. Teluh. Entah apalagi.

Baca juga: Cerita Lama – Cerpen Riyon Fidwar (Serambi Indonesia, 23 Desember 2018)

Ayahnya seorang pedagang hasil bumi. Persaingan usaha yang tak sehat berakhir pada terenggutnya nyawa ayah. Namun kematian ayah sepertinya tidak cukup bagi orang yang busuk hati tersebut. Tak lama setelah itu Mak mulai sakit-sakitan. Sampai detik ini. Para penyembuh itu bilang, seluruh keluarganya akan dibinasakan.

Sani tidak percaya itu. Tak ada manusia yang bisa mendahului takdir Tuhan. Mak pun tidak ingin percaya, tapi dari ke hari ia merasakan tubuhnya semakin ringkih. Lemah. Tubuhnya seperti dicucuk-cucuk paku dan disayat benda-benda tajam. Pikirannya kacau. Ia tak pernah lagi merasakan kebahagiaan. Harta benda yang ditinggalkan ayah satu per satu hilang. Ada saja cara agar harta benda itu berpindah tangan dari keluarga Sani. Entah hilang, dijual, hingga terbakar.

Sani yang saat itu masih terlalu muda belum siap kehilangan ayah. Keluarga mereka kehilangan nakhoda. Hingga akhirnya kapal itu benar-benar karam. Gelap. Kini Sanilah satu-satunya tumpuan keluarga. Menjalankan wasiat ayah untuk menjaga Mak dan adik-adiknya.

Arsip Cerpen di Indonesia