BANGUNAN itu memanjang sepanjang seratus meter selebar lima meter. Di utara ada loketloket, ruang kosong tiga meter lebih, dan dekat ke dinding selatan ada dua barisan kursi panjang dengan sandaran punggung. Pencahayan suram—meski kini siang hari—, mungkin karena bola lampu lebih dekat ke dinding utara, di atas depan loket penjualan tiket. Terasa sunyi, lengang, dan kosong, karenanya kami meneliti tulisan dari loket demi loket, untuk sampai di loket tujuan, dan kami menemukannya di dekat dinding pembatas, di ujung, dan bergegas untuk membelinya di loket yang lengang. Tak ada penjual ketika kami mendekat dan berteriak mau membeli. Sekitar tiga menit baru ada orang yang mendekat, dan bertanya “untuk keberangkatan kapan?” Aku mengernyit. Dan bilang, bahwa kami butuh tiket buat hari ini—si penjual tiket menggeleng, dan berkata bahwa tiket untuk hari ini sudah habis terjual lima hari yang lalu, juga untuk besok—lusa ada sisa satu tiket, dan yang banyak itu, tujuh, untuk esok lusanya. Karcis Ekonomi selalu cepat habis—murah sih.” katanya—lalu, “tapi dijamin pasti dapat tempat duduk.”
Baca juga: Danau Kristal – Cerpen Muhaimin Nurrizqy (Haluan, 06 Januari 2019)
“Apa tak bisa disisipkan, Pak—nanti harganya dilebihkan …,” kata Go—tiba-tiba. Si Penjual tiket itu menggeleng, dan dengan mencondongkan badannya ia setengah berbisik, “aku juga pinginnya begitu, seperti biasa—tapi alat penjual ini telah diset di komputer stasiun, yang mengatur tanggal keberangkatan dan kursi tempat duduk. Maaf, tidak ada tiket untuk penumpang tanpa tempat duduk—ditolak security kalau mau ke gerbong kereta” (Lantas mencondongkan badan dan melirik ke kiri dan ke kanan, lalu), “coba cari di loket lain, siapa tahu mendapat tiket ke dekat stasiun tujuanmu—jadi tinggal turun, serta melaku dengan ojek atau bus …”
“Bapak saja ..”
“Dua kali lipat …”
“Untuk dua orang, Pak.”
Baca juga: Dalam Kardus Pukul Dua – Cerpen Diego Alpadani (Haluan, 30 Desember 2018)
“Hanya satu—itu juga belum pasti,” katanya sambil celingukan ke kiri dan ke kanan. Go menatap. Aku menggeleng—aku tidak setujuan dengannya, dengan kereta api memang sejalur, tapi dengan bus akan memakai jalur yang berbeda, dan itu rasanya akan lebih cepat—dan harganya sebanding dengan harga tiket tembakan itu. Aku menggeleng, serta bilang, bahwa itu harus diambil, terlebih ia harus secepatanya ada di sana. “Ambilah,” kata-ku, sambil beranjak dan menghenyak duduk di kursi tunggu yang lengang. Orang di sisiku merapat, dan bilang ia akan menjual tiketnya, separuh harga, tapi untuk keberangkatan lusa. Aku menggeleng, tiket itu atas nama dan KTP-nya, dan aku pasti ditolak oleh komputer dn security ketika validisasi tiket saat mau masuk ke peron keberangkatan kereta di sebelah kiri stasiun. Ya! Dan menunggu sampai ke lusa itu perlu duit akomodasi berapa? Apa mungkin aku harus jalan kaki saja? Bila ongkosnya tidak mungkin dipenuhi? Atau berjalan kaki dulu, sampai ongkos cukup untuk membayar sisa perjalanan?