Seseorang yang tadi duduk di dekatnya merapat, dan bilang—tampaknya bilang lagi—, bahwa ia bisa menjualkannya ke orang dalam, lantas mereka akan menjualkannya lagi pada si penumpang yang membutuhkan—” tapi dengan separuh harga serta fee penjualan.” Dengan memainkan rokok, menyelipkan ujungnya, lantas membakar satunya lagi, ia bilang, “dari pada hangus …,”—dan pada ujungnya, orang itu terpaksa mengangguk. Lantas mereka berjalan ke loket, kembali kasak-kusuk dengan si penjual tiket. Sementara itu, Go mendekat, tersenyum dan menunjukkan tiket yang bertiti mangsa tanggal hari ini. Aku tersenyum.
Baca juga: Keluarga Pelukis Kita – Cerpen Ka’bati (Haluan, 09 Desember 2018)
“Aku ingin istirahat sejenak, lalu ke terminal …” kataku—sambil tak dikatakan, kalau aku mungkin memilih jalan kaki sebelum kuasa naik bus serta membayar sisa ongkos, mungkin sepanjang 150 km.
***
AKU Bertemu Go dalam Angkot, selepas Pelabuhan—dan ia bilang, bahwa kapalnya baru mendarat dari luar Pulau, dan kini harus pulang ke kampungnya, dengan kereta api ekonomi—ketika itu akan membawaku ke stasiun. Kini aku harus kembali berpisah setelah ia pasti mendapatkan tiket, dan aku ini harus ke terminal, lalu berjalan kaki meninggalkan kota pelabuhan ini, terus melaku sepanjang jalur selatan, kota demi kota, sampai menyeberangi kali besar dan menembus beberapa hutan Jati Perhutani, lantas beristirahat sambil membuang lelah dengan banyak minum—dan mungkin hanya ada dua kali makan. Memang—aku harus menghemat duit, dan air minum mungkin aku tampung di botol, dari keran masjid di sepanjang jalan. Mendapatkan limpahan berkah Allah.
Baca juga: Bekas Lipstik di Bibir Cangkir – Cerpen Mashdar Zainal (Haluan, 02 Desember 2018)
Mungkin aku harus berjalan seharian—yang pasti panas dijerang matahari, di tengah lalu lintas ramai membakar polusi udara sepajang rute, dan menempuh perjalanan malam yang dingin tanpa kepastian akan bisa beristirahat di mana (dan semoga aku tidak ada di tengah hutan, yang liar dan jauh dari penduduk). Dan menjelang pagi mendekati kota aku tidur di sembarangan tempat, dan mungkin masuk masjid, ikut shalat Subuh setelah ikut mandi. Sejenak istirahat, dan mencari sarapan pagi yang Rp 4.000.-, lantas berjalan lagi, dan mencegat bis setelah mendapat kepastian berapa ongkos yang harus dibayarkan bila mau ke B—dan mungkin tidur sampai dijagakan di terminal. Ke luar keramaian itu, dan berjalan kaki—20 km—untuk tiba di umah. Nun—di tepi bukit.
Tapi akankah aku sampai di rumah? Ataukah mati sebelum sampai di mana-mana?
***