Perjalanan Pulang

Baca juga: Jatah Air Mata – Cerpen Agus Salim (Haluan, 25 November 2018)

AKU merasa pegal pada seluruh sendi—tidur, dalam lelah, yang membuat segera terlelap itu, melupakan fakta aku hanya bisa menggeletak di lantai tak beralas, di tepi jalan di pos keamanan untuk lebaran yang sat ini kosong. Atap yang bolong membuat kilau matahari tertatap menyilaukan, dan aku tahu, kini sudah siang. Aku mengeliat, celingkukan, lalu jalan ke dekat jembatan, meninjau palunganya, dan dari sisi seberangnya aku mendekat, untuk selusupan mandi. Setelah segar dan berbaju kembali aku jalan ke arah T, dan pada warung pinggir jalan aku minta sarapan pagi dan minum teh dengan RP 7.500.-, serta bertanya “berapakah ongkos bis ke B. Tapi apakah perlu naik bis? Ataukah terus saja berjalan kaki sebagai hukuman atas kegagalan mengembara hingga tak bisa cukup punya bekal untuk pulang? Aku termangu—dan meneguk air keran, dari mesjid apa di jalanan, yang telah ditempuh semalam. Alangkah capek—sangat capek dan amat jemu.

Kapankah aku mati? (***)

Arsip Cerpen di Indonesia