Secangkir Kopi dan Kartu Remi

“Saya mah selalu ingat ke si Malik, yang dituduh melakukan pencurian korek api oleh si Timbul. Itu, kan, hukum yang tak semena-mena, lagi pula belum tentu ia bersalah,” timpal Sapei.

Obrolan kami memang kadang tidak nyambung, kadang soal politik, kadang soal ekonomi, sosial dan kebudayaan, ngobrol musik, sastra dan lagu dangdut. Dari HP milik Alek terdengar lagu dangdut menyayat hati:

“kalau hanya untuk mengejar laki-laki lain, untuk apa sih benang biru kau sulam menjadi kelambu…”

“Nah, lagu ini sastra dangdut, karena syairnya bagus,” kata saya.

Tiba-tiba secangkir kopi tumpah, entah siapa yang menumpahkan, saking asyiknya mereka main kartu hingga tak ada yang mengetahuinya. Air kopi tumpah di atas kartu-kartu yang berserakan di atas meja.

“Kamu, ya, yang menumpahkan kopi,” tuduh Mukti pada Kang Iman.

“Tuh… Si Uwa, mentang-mentang punya banyak uang, teganya menumpahkan kopi,” jawab Kang Iman

“Enak aja, saya nggak, mungkin Pei,” kata Wa Obay.

“Naha nyalahkeun saya? Kan saya lagi nulis nih,” sanggah Sapei.

Mereka berempat bertengkar, tak mau disalahkan. Permainan kartu jadi kacau, tawa riang berubah menjadi tegang. Semua saling menuding dan tak mau disalahkan.

“Sudah, sekarang kita ke pengurus RW saja, biar diselesaikan, nanti ketahuan siapa yang bersalah dan menumpahkan kopi,” saya usul. Semua setuju.

Berlima kami pergi ka kantor RW di Bojongkacor, Kabupaten Bandung. Sesampai di sana, selain Ketua RW, ada juga Hansip Gugun. Lalu kami ceritakan awal mula kejadiannya.

“Begitu, Pak, di antara mereka berempat tidak merasa menumpahkan kopi. Kira-kira siapa yang menumpahkan kopi dan yang bertanggung jawab, karena kita semua sedang gembira bersama, berubah menjadi saling menyalahkan. Ini jangan-jangan ada orang yang mau merusak kebahagiaan kami,” kata saya.

“Ini pasti ada kekuatan Pro-Jokowi atau Prabowo. Hati-hati kalian sedang diadu domba,” Hansip Gugun menimpali. Sementara Pak RW masih terdiam berpikir. Kami saling memadang, seolah-olah mengiyakan apa yang dikatakan Hansip Gugun.

“Jangan-jangan betul kata Hansip itu,” kata Mukti.

“Iya, ya… waduh, kita diadu domba,” timpal Kang Iman

“Betul, kita harus waspada,” Wa Obay bergumam.

Arsip Cerpen di Indonesia