“Kalau begitu, kita kembali ke rumah, beli lagi kartu, kita dami saja, dan teruskan main kartu,” kata Sapei.
“Begini, saya tidak bisa memutuskan persoalan ini, bagaimana kalau kita ke kantor kelurahan, kita bereskan di sana,” kata Pak RW.
“Ga usah, Pak…. gak jadi kita melapor, lagian ini sudah jam delapan malam,” kata Sapei.
“Tidak bisa, ini harus diselesaikan secara hukum. Kalian tidak boleh diam saja. Ini bahaya. Karena kejadian ini bisa saja menimpa warga yang lain. Di sini juga hansip suka gapleh. Nah, barangkali terjadi di sini,” ujar Pak Rw.
Kami pun akhirnya ke kantor lurah. Pak Lurah kebetulan sudah ada di sana setelah ditelepon oleh Pak RW. Di sana ada juga sekitar 40 orang dengan wajah resah dan marah.
“Begini, Pak, di sini juga ada kasus yang sama. Ada 10 pasangan main kartu gapleh dan remi, dan kopi mereka tumpah, entah siapa yang melakukan. Mereka mencoba mau membereskan masalah ini di sini, sebelum sampai ke kepolisian,” panjang lebar Pak Lurah menerangkan.
“Gimana, nih, Pak Lurah, kami ingin cepat selesai, kami ingin main kartu lagi,” teriak salah seorang dari mereka.
“Iya, Pak Lurah harus bisa membereskan masalah ini. Cuma mencari pelakunya, kok, susah,” teriak yang lainnya.
“Usut tuntas pelaku penumpah kopi,” yang lain menimpali.
“Usut tuntas! Usut tuntas!” teriak mereka bersama-sama.
Kantor Lurah menjadi riuh. Hampir tengah malam persoalan ini belum tuntas. Pak Lurah belum bisa memastikan siapa sebenarnya yang menumpahkan kopi. Ada sepuluh kasus yang sama, sebelas dengan persoalan kami. Tapi tak satu pun bisa ditentukan siapa pelakunya. Warga terus mendesak. Pak Lurah, Pak RW, dan Hansip Gugun belum bisa memutuskan.
Diam-diam kami beringsut dari situ, kembali ke rumah.
“Ayoo, kita teruskan main kartu, masih ada kartu baru,” kata Sapei.
Sapei, Mukti, Wa Obay, dan Kang Iman kembali bermain kartu. Saya menjadi tuyulnya, Alek dan Anti membuatkan kopi lagi yang baru.