Temanku bilang, semua orang dengan aktivitas yang berbeda itu sedang menuju tujuan yang sama. Dia mencoba bermain tebak-tebakan denganku kala itu.
“Coba jawab, Na!” ujarnya setelah melontarkan pertanyaannya.
“Apa ya?” tanggapku sambil berpikir.
“Bahagia?” jawabku ragu. Ia hanya tersenyum menatapku.
Baca juga: Mahar Puisi – Cerpen Faris Al Faisal (Pikiran Rakyat, 23 Desember 2018)
Desing suara pintu bus yang terbuka kembali terdengar. Seorang ibu membawa bayi kecil di gendongannya pun masuk mendahului seorang pemuda berkemeja biru langit lengan panjang yang ia lipat sesiku. Halte keempat ini hanya menaikkan dua penumpang. Ibu tersebut mendapatkan kursi setelah seorang lelaki dewasa dengan tas kerjanya memberikan tempat duduknya.
“Makasih.” Ucap ibu itu dengan senyum sopan. Kemudian ia duduk dan memberikan sebotol susu formula untuk anaknya yang terbangun hampir menangis karena kedinginan memasuki bus AC di pagi hari yang dingin.
Untuk mencapai halte terakhir, rute bus ini melewati jalan yang terlintas di tengahnya rel kereta api sehingga terkadang pada jam-jam sibuk seperti ini kemacetan tak dapat dihindari. Bila kereta api lewat, palang pintu kereta api akan diturunkan secara otomatis. Palang pintu kereta api yang diturunkan ini lah yang membuat hentinya jalur lalu lintas sementara untuk mendahulukan kereta api yang lewat.
Baca juga: Ziarah – Cerpen Win Han (Pikiran Rakyat, 09 Desember 2018)
Sekejap angin berembus kasar di luar bus, menambah hawa dingin pagi itu. Suara khas gemuruh kereta datang pun terdengar selama beberapa menit kemudian hilang. Kulihat palang pintu kereta api otomatis itu telah dinaikkan kembali. Lalu lintas pun berjalan kembali. Satu per satu kendaraan maju melewati rel kereta api. Tepat ketika bus melewati rel kereta api sebelah kanan, seseorang menepuk pundak sebelah kiriku. Kutolehkan kepalaku kearahnya.
“Duduk, Mbak,” seorang ibu mempersilakanku menempati kursinya.
“Saya mau turun di depan,” lanjutnya.
“Oh. Terima kasih Bu,” jawabku sembari tersenyum.