Teriakan Aluna

Mulailah kaca-kaca tersebut berjatuhan hingga kiranya dapat mengeluarkan satu per satu orang dari bus itu.

“Saya akan mengeluarkan para wanita dan anak-anak terlebih dahulu. Kamu bantu saya memecahkan kaca di sebelah sana,” ucapku pada pemuda itu sambil menunjuk pintu kaca yang sebelah kiri. Lelaki itu pun menganggukkan kepalanya.

“Pak sopir tolong cepat bukakan pintunya. Kereta api itu semakin mendekat akan menabrak kita,” seorang anak laki-laki berkata dengan air mata yang berderai-derai sembari memegangi tangan ibunya kuat-kuat. Orang-orang di luar sudah meneriaki mereka tak sabaran, panik jika harus terjadi sesuatu yang tak diharapkan siapa pun.

Baca juga: Seseorang dalam Ramalan – Oleh Jein Oktaviany (Pikiran Rakyat, 07 Oktober 2018)

“Tombol pembuka otomatisnya pun tak dapat berjalan,” ujar sang sopir dengan kepala menunduk pasrah.

Para penumpang pun menghembuskan napas paniknya. Berteriak-teriak tak jelas. Kemudian mendekat ke arahku, berebut hendak cepat-cepat keluar.

“Ayo, Bu. Ibu duluan,” ujarku pada ibu dengan bayi yang menangis di pelukannya.

Tiba-tiba seorang bapak-bapak menyerobot tubuhku berusaha untuk keluar lewat kaca yang aku dan pemuda itu pecahkan.

“Pak!!” sentakku sembari menariknya sekuat tenaga untuk menyingkir.

Baca juga: Cerita Nenek – Cerpen Ahmad Moehdor Al-Farisi (Pikiran Rakyat, 09 September 2018)

“Tolong kerja samanya! Ini bukan waktunya untuk mendahulukan ego kita! Kau mau semuanya kacau hanya karena kau terjebak dalam emosimu?!!” seruku kesal. Namun, bapak itu tak mau mendengar, hingga pemuda yang membantuku tadi menariknya dengan sekuat tenaga dan menahannya.

“Lepaskan!!” Bapak itu mencoba melepaskan diri.

“Ayo, Bu. Cepat!” seruku terburu-buru.

Tepat ketika ibu dan anak bayinya itu melompat keluar, kereta itu mendekat. Hanya tinggal berjarak satu meter dari bus. Decitan roda kereta api dengan relnya berdesing tak tertahankan hingga mengeluarkan percikan-percikan api.

Namun, apa mau dikata, kita tak kuasa melawan waktu yang terus berjalan. Semua berubah menjadi gelap seketika. Usaha sekeras apapun tak dapat merubah takdir agung yang telah ditetapkan-Nya.

Arsip Cerpen di Indonesia