Ketika aku hendak melangkahkan kaki menuju kursi itu, kulihat seorang petugas kereta api keluar terburu-buru seperti meneriakkan sesuatu sambil melambai-lambaikan tangan dari pos jaganya. Saat itulah, semua tak dapat dikondisikan lagi. Bus tiba-tiba berhenti, terjebak di tengah-tengah rel kereta api, sang sopir mengumpat marah. Semua penumpang panik bertanya-tanya apa yang terjadi. Bayi yang tertidur lelap terbangun mendengar kegaduhan. Tubuhku pun mematung, terlihat dari kejauhan kereta api berjalan ke arah bus yang kutumpangi dengan kecepatan penuh sulit untuk diberhentikan.
“Buka pintunya!!!!” aku berteriak sekencang mungkin, sambil berusaha menggerakkan kakiku yang gemetaran. Semua orang pun terdiam menatapku nanar. Aku pun mengarahkan jari telunjukku ke luar jendela untuk memberi mereka penjelasan.
Baca juga: Yu Nalea – Cerpen Sungging Raga (Pikiran Rakyat, 02 Desember 2018)
“Cepat buka pintunya, Pak Sopir!!!” teriakku sekali lagi. Suasana di dalam bus pun berubah menjadi kacau. Semua orang berteriak menginterupsi konsentrasi sang supir bus. Supir bus itu masih berusaha menjalankan busnya dengan panik.
“Tak akan ada gunanya, bodoh!” Seorang bapak-bapak menghardiknya tak sabaran.
“Cepat buka saja pintunya!” Kali ini seorang wanita paruh baya meneriakinya dengan suara parau.
“Hanya dengan ini kita akan selamat semuanya!” balas sang supir keras kepala.
“Sungguh kau tidak tahu?!! Kalau sudah seperti ini, sekuat apapun kau menginjak pedal gasnya bus ini tetap tidak akan berjalan!!!!” ujar seorang pemuda berambut cepak dengan teriakannya.
Baca juga: Pria Jahe – Cerpen Febbi Sena Lestari (Pikiran Rakyat, 14 Oktober 2018)
Sang sopir bus pun menghela napasnya kasar, mengumpat kembali sambil terus menginjak pedal gasnya kuat-kuat. Jalan pikirannya tak dapat dikendalikan, serangan panik membuatnya tak dapat berpikir dengan jernih.
“Yang benar saja??!!!” Seorang perempuan berteriak tak tahu lagi harus melakukan apa setelah melihat sang sopir masih keras kepala melakukan hal yang tak berguna.
Aku pun mengedarkan pandanganku kesekeliling bus, hingga kudapati di sisi bagian belakang bus sebuah benda merah alat pemecah kaca. Dengan terburu-buru aku berjalan untuk mengambilnya. Dengan susah payah aku melepaskan benda itu dari tempatnya hingga akhirnya dapat ter-lepas. Cepat-cepat kupukulkan benda itu pada pintu kaca bus yang berada di bagian tengah bus sebelah kanan.
Prangg!! Terdengar suara kaca pecah yang membuat perhatian semua orang ter-arah padaku. Kemudian seorang pemuda berkemeja lengan panjang yang tadi naik di halte keempat membantuku dengan menendangkan kakinya ke arah kaca yang sudah mulai retak.