Mayat di Atas Bukit

Meski hidup di bawah satu atap, kami seperti hidup berjauhan. Dari hari ke hari istriku semakin menyibukkan diri. Tak pernah mempedulikan suaminya. Bahkan menegur pun tidak. Aku sedih sekali. Rasa sedih itu seperti datang dari segala arah. Membuat hari-hariku terasa kosong. Dan perasaan kosong itu membuatku sangat lelah. Dan rasa lelah itu membuatku selalu ingin marah dan berserapah, bahwa isi dunia ini tak lebih dari omong kosong belaka. Termasuk pernikahan kami, perempuan sialan itu juga, termasuk orang tua kami yang tak henti-henti menagih cucu dari kami. Mereka benar-benar gila. Sewaktu kami masih lajang, mereka ribut menyuruh kami menikah. Sesudah kami menikah, mereka ribut lagi minta cucu seperti menagih utang. Barangkali, kalaupun kami sudah dikasih anak, mereka tak akan berhenti. Mungkin mereka juga akan meminta kami untuk mati.

Aku takut menjadi gila gara-gara memikirkan itu semua. Kehidupan rumah tangga yang janggal itu. Kegagalan-kegagalan itu. Kesedihan-kesedihan itu. Kesepian-kesepian itu. Dan sebab itulah kuputuskan untuk mengadopsi anak. Tiga anak sekaligus. Anak adopsiku yang pertama adalah seekor kucing Persia berwarna putih, bulunya lembut dan suka tidur di pangkuanku. Anak adopsi yang kedua adalah sepokok bonsai adenium dalam pot, begitu cantik dan mungil dan tidak banyak bicara. Dan anak adopsiku yang ketiga adalah seekor ikan mas koki gendut dalam stoples akuarium, suka menyanyi dan sangat menggemaskan.

Setelah aku mengadopsi anak-anak, istriku malah mengataiku tidak waras. Sambil melepeh sesuatu dari mulutnya, dia bilang di depan mukaku, dia akan menceraikanku. Aku terbahak-bahak. Mana ada istri menceraikan suami? Lalu dia semakin menjauhiku, dia mulai jarang pulang, dan sepertinya enggan untuk pulang. Maka ketika dia tidak pulang selama lima hari, aku tidak menyebutnya menghilang. Aku hanya menyebutnya belum pulang. Dan sepertinya, memang lebih baik dia tidak pulang. Keberadaannya di rumah juga tak lebih bermanfaat ketimbang benda-benda lain, semisal kursi, sapu, keset, atau sandal.

***

Kabar perempuan yang mati di atas bukit itu kudengar tadi pagi dari seorang tetangga yang kebetulan lewat depan rumah. Kau harus segera melihatnya, barangkali dia istrimu, sarannya. Aku bertanya pada anak pertamaku si kucing Persia, apakah aku memang perlu melihatnya? Kucing itu mengeong, lalu menggoyang-goyangkan pantatnya. Aku melemparnya dengan terompah kloset. Tapi meleset. Anak tak punya adab, kataku. Ditanya baik-baik malah mengejek menggoyang-goyangkan pantat. Anakku yang kedua, bonsai adenium yang pendiam, berbisik padaku, bahwa aku tak perlu melihat mayat itu kalau aku tak ingin melihatnya. Aku mengelus-elus tubuhnya, menciumi bunganya yang merah jambu dan beraroma pahit. Kau memang anakku yang paling pengertian, kataku.

Arsip Cerpen di Indonesia