Mayat di Atas Bukit

Sementara itu, dari dalam stoples akuariumnya, si bungsu, si mas koki gendut, berkomat-kamit di dalam air, mengeluarkan gelembung udara dari mulutnya. Ia bilang, bahwa papanya pilih kasih, sebab tidak turut meminta pendapatnya. Maka, aku pun mendekatinya dan bertanya padanya, apakah aku memang harus pergi ke bukit untuk melihat mayat itu? Papa memang harus melihatnya, sebelum mayat itu diangkut ke rumah sakit yang ada di kota, kata si bungsu. Kenapa aku harus melihatnya? Tanyaku balik. Karena kau suami yang baik, kau papa yang baik, dan kau harus memastikan kalau semua anggota keluargamu baik-baik saja. Tak ada ruginya pergi melihat-lihat daripada berdiam di rumah dan menjadi gila.

Anak ini juga tak punya adab, pikirku. Mengatai papanya gila. Kuraih stoples berisi air itu, lalu kubanting di lantai. Stoples berkeping jadi beling. Si bungsu gendut malah menari-nari, melompat-lompat. Aku ikut menari bersamanya di lantai. Berputar-putar. Menggelepar-gelepar. Menyenangkan sekali. Kalau tidak ada orang mengetuk-ngetuk pintu, mungkin aku masih akan terus menari bersama si bungsu gendut. Tertawa bersama. Sampai tidak bergerak.

Aku membuka pintu. Beberapa tetangga sudah berkerumun di teras. Sepertinya mayat perempuan yang ditemukan di bukit itu memang istrimu, ujar seonggok ketela pohon yang tiba-tiba menyeruak dari kerumunan. Kau harus melihatnya, kata segelundung pepaya, tepat di depan mukaku. Seekor kalajengking raksasa berdiri dan ikut bersuara, untuk memastikan apakah dia istrimu atau tidak kau harus melihatnya. Seekor kampret beterbangan di udara dan berseru, dia istrimu, aku yakin dia istrimu. Mendadak sebuah pohon mangga tanggung menarik tanganku dan memekik, aku akan mengantarmu ke bukit. Kau harus melihatnya sendiri.

Para tetangga bersekongkol dengan ketela pohon, segelundung pepaya, kalajengking, kampret, pohon mangga, serta aneka tumbuhan dan binatang-binatang lain untuk menggiringku menuju bukit. Di sepanjang jalan, orang-orang, tumbuhan-tumbuhan, binatang-binatang, memandangiku dengan tatapan aneh. Seekor kucing di atas sebuah kursi di teras rumah tetangga mengedipkan matanya padaku lalu menjilati tubuhnya sendiri. Bunga-bunga dalam pot tersenyum, bersorak, seperti memberiku semangat.

Sesampainya di atas bukit, aku terbengong-bengong, sebab bukit itu tidak lagi menjadi bukit, melainkan menjadi pasar. Orang-orang berkerumun sambil menutup hidung. Matahari menjerang tepat di atas kepala. Dan desau angin bermunculan dari daun-daun. Minggir. Minggir. Orang-orang berseru. Kerumunan itu pun tersingkap. Sebuah pita berwarna kuning dipasang memanjang dari pohon ke pohon. Mungkin ada anak kecil sedang ingin bermain di atas bukit, pikirku. Di hadapanku, aku melihat beberapa orang berseragam tengah berebutan menggotong gedebok pisang menuju tandu.

Arsip Cerpen di Indonesia