Aku tak bisa menahan tawaku. Orang-orang ini pasti sedang melucu berjemaah. Kasihan sekali orang-orang yang butuh hiburan ini. Gedebok pisang mereka bilang mayat. Pasti kalau ada mayat betulan akan mereka bilang gedebok pisang. Hahaha. Di tengah ledakan tawaku yang tak terbendung itu, aku baru saja ingat, beberapa hari yang lalu akulah yang mencacah-cacah gedebok pisang itu. Lalu membuangnya di atas bukit. Aku tak menyangka, gedebok pisang itu bisa jadi hiburan dahsyat buat mereka.
Aku masih saja tertawa. Sementara orang-orang, tumbuhan-tumbuhan, binatang-binatang, terus saja menatapku dengan tatapan janggal. Mata-mata itu, kini persis seperti butiran kelereng yang sepertinya sangat mengasyikkan kalau dicungkil satu-satu dan dimasukkan dalam botol. Lalu kubawa pulang, dan kuhadiahkan untuk anak-anakku.
Coba kau lihat baik-baik. Bukankah itu istrimu? Pekik orang-orang. Aku menghentikan tawaku dan menatap mata mereka satu per satu sambil berpikir soal kelereng yang berkilapan di dalam botol. Bakal mainan buat anak-anakku di rumah. Tapi sayang sungguh sayang, aku lupa, tidak bawa pisau. Seharusnya aku tadi bawa pisau.
Matahari semakin membara, seperti menjerang kepala. Dan desau angin terus saja bermunculan dari daun-daun. Aku mengamati sekeliling, mencari-cari kayu atau apa pun yang bisa kupakai untuk mencungkil kelereng-kelereng itu dari tempatnya.
Malang, 2018
Mashdar Zainal, lahir di Madiun, Jawa Timur, 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Buku terbarunya adalah Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran (2018). Kini dia bermukim di Malang.