Panggilan Izrail

“Siapa yang tahu ajal Bang? Apa Abang sanggup menghindari panggilan kematian dari Izrail?” Simar mengelap air matanya dengan ujung bajunya. Maksan diam beberapa jenak. Dia berpikir untuk mencari jawaban guna membuat mulut istrinya terkatup. Tak ingin istrinya mencercanya dengan berbagai pertanyaan, apalagi Simar kerap bicara soal kematian padanya. Karena diam-diam sesungguhnya ngeri merayapi sekujur tubuhnya bila istrinya tak henti membahas kematian.

“Ah, mati bisa dihindari. Bisa kok menghindar dari panggilan Izrail. Kalau Izrail memanggil, ya enggak usah didengerin,” jawab Maksan sekenanya. Buru-buru ia meninggalkan istrinya. Tinggal gerimis setipis hela-helai rambut liris dari langit. Simar menarik napas dalam-dalam. Ia tak mengerti dengan tingkah pola sekaligus jalan pikir suaminya. Apa ia kira Izrail itu anak kecil? Sehingga ia tak akan menggubris panggilan kematian dari Izrail. Simar melihat badan pendek suaminya hilang di balik pengkolan jalan.

Permintaan Simar yang berulang-ulang supaya suaminya menghentikan kebiasan buruknya itu kerap berakhir dengan pertengkaran. Keduanya akan adu mulut hingga akhirnya Simar menangis tersedu-sedu lantaran tamparan Maksan. Selama tiga bulan sudah terjual dua petak sawah untuk menuruti nafsu Maksan main judi. Selama tiga bulan pula Simar tak mendapat jatah belanja hingga perempuan itu terpaksa bekerja diam-diam sebagai buruh cuci.

Belum juga hilang sekelebat bayangan yang membuat bulu kuduk di lengan Simar berdiri. Ngeri juga merayapi tengkuknya. Ia ketakutan jika suaminya bernasib sama dengan Kasno, tetangga sebelah rumahnya yang meninggal mendadak sewaktu laki-laki kurus kering, dengan tonjolang tulang-belulang serupa batang lidi di dadanya itu meninggal mendadak sewaktu main judi.

Padahal Maksan menjadi saksi atas kematian Kasno kala itu. Tapi, laki-laki itu sama sekali tak mau menyudahi kegemarannya bermain judi. Justru Maksan semakin menjadi-jadi. Setiap hari, ia kalah, setiap hari pula ia jual apa saja yang dimilikinya hingga saat ini yang tertinggal hanya rumah reyot dan sepetak tanah permakaman keluarga.

“Kalau ingin kaya, ya kerja Bang. Semakin hari ini kok malah semakin tambah miskin. Gara-gara Abang turuti hawa nafsu main judi,” kata istrinya pada Maksan, suatu hari, dalam remang malam hari. Gelas kopi di atas meja tandas isinya setelah diteguk oleh Maksan. Laki-laki paruh baya itu cuma menatap wajah istrinya. Lampu teplok meliuk-liuk bertahan dari tiupan angin.

Arsip Cerpen di Indonesia