Panggilan Izrail

Belum mengucap apa-apa, istrinya kembali berkata, “Ingat loh Bang. Izrail kerap mencabut nyawa manusia di waktu ia melakoni kegemarannya. Apa Abang tidak ingat dengan Kasno yang gemar judi? Ia mati di tempat judi saat bermain judi.” Simar tak membutuhkan jawaban dari pertanyaan yang ia ajukan kepada suaminya. Ia tahu, Maksan tak akan menjawab bila perempuan itu selalu membahas perihal kematian.

Barangkali, kata Simar, diingatkan mati Maksan akan berubah, meninggalkan kegemarannya main judi. Dan upaya Simar pun berhasil. Untuk beberapa hari Maksan terlihat tak keluar dari rumah, meskipun kawan-kawannya yang sama-sama gemar berjudi remi di malam hari, di rumah sepi mengajaknya berkali-kali. Tapi, pada hari kesepuluh Maksan diam-diam menghilang dari rumahnya.

Melihat Maksan berlaku seperti sebelumnya, berjudi menjelang malam hari, bahkan siang hari pun kini dijalani membuat istrinya berkesimpulan, watak Maksan tak bisa diubah. Bisa dipastikan di kemudian hari Maksan akan mati di tempat ia main judi. Ditemukan tergeletak dengan kartu reminya, dan berlembar-lembar uang menyumpal mulutnya. Lintasan pikiran itu sempat mampir di dalam tempurung kepala Simar yang sempit.

“Karena Haji Maskur gemar salat. Ia wafat di dalam masjid. Tepat ketika ia sedang sujud. Apa Abang masih kurang yakin dengan dua contoh yang disuguhkan Tuhan?” Simar menekan suaranya. Namun apa pun yang diucapkan istrinya sejak tadi cuma ditanggapi dengan isapan sebatang rokok oleh Maksan. Dengan tenang, ia mengembuskan asap rokok ke udara. Simar berdoa dalam hati supaya laki-laki yang telah memberinya dua orang anak itu dibuka pintu hatinya, disadarkan bahwa apa yang dilakukannya belakangan ini akan membuatnya dijebloskan ke lubang neraka paling dalam.

Bergidik Simar membayangkannya. Setelah hampir satu jam Simar bicara. Tiba-tiba Maksan melontarkan kalimat yang tampaknya diucapkannya enteng. Lagi-lagi kalimat yang sering didengar Simar keluar dari mulut suaminya itu. Ketika Maksan mengucap kalimat itu, dada Simar jadi terbelah dan ia langsung menelan ludahnya sendiri.

“Kau tak perlu risau soal mati. Sepekan sebelum aku mati, aku akan taubat. Izrail tak mungkin mencabut nyawaku sebelum kuizinkan,” kata Maksan sembari membuang asap rokok dari mulutnya.

“Kau tahu tidak?” tanya Maksan, seperti memancing istrinya bertanya kelanjutan kalimatnya. Namun, tanpa perlu menunggu istrinya bertanya, Maksan melanjutkan, ia bilang, “Haji Maskur mati muda karena ia terlalu baik jadi orang. Orang baik cepat mati. Kasno mati di usianya yang hampir 70-an.” Maksan sudah tidak tahu berapa batang rokok yang ia isap. Bulan terlepas dari dekapan awan. Bertengger tepat di atas rumah pasangan Maksan-Simar itu. Tempias cahayanya menyelinap ke dalam rumah melalui celah jendela yang sedikit terkuak.

Arsip Cerpen di Indonesia