Panggilan Izrail

“Haji Maskur memang muda. Tapi ia mati di tempat yang baik dan secara baik-baik pula. Kasno memang meninggal di usia tua. Tapi ia mati di tempat yang buruk dan dengan cara buruk pula. Apa kamu juga ingin mati dengan usai terlampau tua? Tapi mati di tempat judi. Mana yang kau pilih?” Mendengar pertanyaan yang diajukan istrinya, Maksan berdehem, melegakan tenggorokannya dari sesuatu yang menyumbat.

“Aku tidak mau jadi orang terlalu baik, takut cepat mati.” Maksan membenamkan puntung rokoknya ke dalam asbak.

“Kayak tahu saja kapan Izrail memanggil kematianmu,” kata istrinya sebelum akhirnya ia meninggalkan Maksan seorang diri di ruang tamu. Terlampau jengkel Simar dengan suaminya itu sampai ia berjalan kasar mengangkat kakinya ke arah dapur.

Pada hari Minggu, Maksan tiba-tiba terbaring lemas di atas ranjang. Ia mengeluhkan sakit perut ketika laki-laki itu baru tiba di rumah, selepas main judi, dalam remang sore hari. Istrinya duduk di sebelahnya. Maksan meronta-ronta kesakitan di atas ranjang. Tak ada angin yang menggesek dedaunan di luar rumah.

Ketika istrinya mengajak bicara, memintanya banyak-banyak mengucap istighfar, Maksan malah murka dan bilang, “Kamu pikir aku sudah mau mati!” Istrinya menitikkan air mata begitu Maksan berujar serupa itu. Simar melihat suaminya seperti seseorang menjelang ajal, sebagaimana ia dulu mengawani ayahnya menjemput kematiannya. Tapi, Maksan tetap kukuh tidak mau menuruti tuntunan kalimat tauhid yang diucapkan istrinya. Padahal, dengan mata kepalanya sendiri Simar melihat tarikan napas Maksan berada di ujung leher.

Pintu diketuk tiba-tiba dengan sangat keras. Terdengar teriakan, seperti memaki, memangil nama Maksan berulang-ulang. Suaranya seolah terbungkus sumpah serapah pada Maksan. Di tengah sekaratnya, Maksan masih bisa menyuruh istrinya membuka pintu. Saat perempuan itu membuka daun pintu, tak dilihatnya siapa pun di sana. Ia cuma terbelalak dan tercenung melihat suaminya melotot, dengan lidah menjulur keluar, tanpa embus napas dari hidungnya. Ia pun tak sanggup membendung air matanya. Dan sembari ia menangis meratap-ratap, bertanya dalam hatinya, siapa yang memanggil Maksan di depan pintu? Apakah itu panggilan kematian dari Izrail?

 

Pulau Garam, Maret 2017

Zainul Muttaqin. Tinggal di Madura. Juara III Lomba Cipta Cerpen Nasional (FCB VII 2015, INSTIKA Sumenep). Salah satu penulis dalam antologi cerpen “Dari Jendela yang Terbuka” (Edukasi Press; IAIN Walisongo Semarang, 2013). “Perempuan dan Bunga-bunga” (Obsesi Press; STAIN Purwokerto. 2014). “Sepotong Senja, Sepenggal Sangka” (FAM Indonesia, 2016).

Arsip Cerpen di Indonesia