Amira melangkah ke arah kamar di dekat ruang makan. Seorang wanita tua tergeletak tak berdaya. Dialah Nanai, mertua Nyonya Fang. Wanita tua berumur 92 tahun ini telah Amira rawat selama lima tahun. Di awal kedatangan Amira, kondisi Nanai masih sehat dan bisa berjalan meski menggunakan tongkat. Namun, setahun belakangan ini, kondisi Nanai kian melemah, seiring usianya yang bertambah.
“Nanai, ganti diapers dulu ya? Pasti tidak nyaman, seharian tidak ganti,” bisik Amira.
Nyonya Fang tidak mau perduli dengan keadaan Nanai. Baginya, mengurusi orang tua tersebut sesuatu yang menjijikkan. Mulai dari memandikan, mengganti diaper, dan menyiapkan segala sesuatunya. Semuanya adalah tugas Amira.
***
Pukul 01.00 dini hari semua pekerjaan baru selesai. Cacing di perut Amira meraung kelaparan, setelah semua tenaga terkuras habis untuk membereskan rumah yang tampak seperti ditinggal satu bulan oleh penghuninya. Setelah mandi dengan air hangat, Amira menyeduh mi gelas, sebelum ia beranjak ke tempat tidur.
Alarm ponsel membangunkan Amira dari lelap tidurnya. Seakan baru saja ia memejamkan mata dan bergelayut pada akar mimpi yang indah. Namun, kini harus dihadapkan kembali pada setumpuk pekerjaan yang telah menanti. Meski dengan rasa malas, Amira tetap memaksakan diri untuk meninggalkan kasur tipis tempatnya menggelung diri setiap malam. Gadis itu memiliki cita-cita besar ketika kelak ia pulang ke Tanah Air. Amira ingin membuka usaha dan membahagiakan ibunya. Agar tidak lagi dihina. Itulah sebabnya ia masih bertahan di rumah ini. Secara diam-diam, Amira menggunakan waktu liburnya untuk melanjutkan pendidikan, di sebuah Universitas Terbuka di Taiwan. Agar kelak ia pulang tidak hanya membawa uang, tetapi juga ilmu.
“Selamat pagi, Nyonya,” sapa Amira dengan membawakan semangkuk oat meal, sebagai menu sarapan sang majikan.
“Pagi …” jawab Nyonya Fang,
“Mia, jangan lupa nanti memberi Nanai obat ramuan China yang dibeli tuan kemarin agar tensi darahnya bisa stabil.”
“Baik, Nyonya.”