Setelah menyuguhkan sarapan dan menyiapkan sepatu serta berkas-berkas kerja majikannya, Amira pun bergegas ke belakang. Kali ini ia harus membersihkan kamar majikan sekaligus mencuci pakaian yang ada di keranjang pakaian kotor. Rutinitasnya dari pagi hingga menjelang istirahat sangat padat. Ia hanya memiliki waktu istirahat satu jam dan itu ia pergunakan sebaik mungkin. Karena, malamnya secara diam-diam, ia harus belajar dan menyimak pelajaran via online.
Sepuluh panggilan tak terjawab terpampang di hanphone Amira, yang ia tinggal di kamar. Saat jam kerja gadis itu memang tidak membawa gawai. Ia takut, pekerjaannya tidak dapat selesai, lantaran sibuk berselancar di dunia maya atau ber-chatting dengan teman-teman belaka.
“Ini kan nomornya Pakde Narto, ada apa gerangan hingga menghubunginya beberapa kali,” gumamnya dalam hati.
Di raihnya gadget putih bermerek Samsung, dengan cepat ia tekan tombol telepon yang berwarna hijau. Namun, operator yang menjawab.
“Hhhh… ada apa gerangan? Tidak biasanya orang di rumah menghubungiku jika tidak karena sesuatu yang sangat penting,”
Greeekkkk ….
Getar hanphone nada SMS masuk.
“Nduk, telepon sekarang!” SMS dari Pakde Narto.
Tanpa menunggu lama, Amira menelpon nomor yang baru saya mengirimkan SMS padanya.
“Halo, Pakde. Ada apa tadi telepon berkali-kali?” tanya Amira tidak sabar.
“Anu …anu… adikmu, Nduk. Gunadi …,” jawab paman Amira, terbata-bata.
“Iya. Ada apa dengan Gunadi, Pakde?”
“Adikmu kecelakaan, Nduk. Saat ini sedang dirawat di rumah sakit.”
Plashh …
Bagaikan disambar petir di siang hari. Degub jantung Amira seakan berhenti. Sejuta pertanyaan meghantui di dalam hatinya. Bagaimana keadaan Gunadi? Adik satu-satunya yang ia punya. Bagaimana dengan ibunya? Pasti beliau sangat rapuh dan perpukul. Amira tahu persis, bagaimana ibunya tidak tidur jika salah satu anaknya ada yang sakit. Ibu sangat trauma, pascabapak meninggal mendadak lantaran serangan jantung. Sejak itu, ibu paling tidak bisa melihat orang sakit.