Pelangi di Kota Changhwa

Sejak menerima kabar tentang adiknya yang kecelakaan, Amira tidak bisa konsentrasi melakukan pekerjaan. Rasa kalut, bingung, membuncah menjadi satu. Gunadi harus menjalani operasi, dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sedangkan, uang tabungannya di bank tidak cukup untuk membiayai operasi tersebut. Tak ada pilihan lain, selain meminjam kepada majikan. Tapi, apa boleh? Pertanyaan itu yang berkecamuk di hati Amira.

Seperti biasa setelah makan malam, Nyonya Fang minta dibuatkan jus buah untuk diantarnya ke kamarnya. Ini adalah kesempatan bagi Amira untuk mencoba bicara pada majikannya perihal keinginannya untuk meminjam uang. Dibuatkanlah jus spesial untuk meluluhkan hati sang majikan, yang keras bak batu karang.

“Selamat malam, Nyonya. Ini jus buahnya,” ucap Amira.

“Taruh saja di atas meja.”

‘Nyonya… hmmm” ucap Amira terbata.

“Ada apa, Amira?

“Hmmm… Begini, Nyonya. Paman saya tadi menelpon. Beliau mengabari jika adik saya mengalami kecelakaan dan harus menajalani operasi. Sedangkan, tabungan saya tidak cukup.”

“Lalu …?” tanya Nyonya ketus.

“Hmm.. maksud saya… saya ingin meminjam uang, Nyonya. Nanti Nyonya bisa potong dari uang gaji saya.”

“Hah …pinjam uang? Kamu pikir aku ini bank, atau tempat kredit uang?”

“Tapi …, Nyonya. Saya tidak tahu harus minta tolong pada siapa? Karena di Taiwan hanya keluarga inilah yang saya punya.”

Nyonya Fang bergeming. Suasana ruangan pun hening. Hanya ada rapalan doa Amira, yang tak henti-henti memohon kepada Allah untuk melunakkan hati majikannya.

Lima menit berlalu, Nyonya Fang bangkit menuju meja kerjanya. Wanita itu mengambil sebuah kunci kemudian berjalan menuju sebuah laci.

“Ini gajimu bulan depan, ambilah di muka, untuk membantu adikmu.”

Amira terperanjat. Ia seolah tidak percaya. Ia menampar wajah sendiri, meyakinkan jika ini bukanlah mimpi. Nyonya Fang yang selama ini otoriter, tegas, sehingga mirip penguasa di zaman penjajahan, ternyata memiliki hati nurani yang lembut.

Dengan tangan gemetar Amira menerima amplop tersebut, seraya membungkuk takzim. Bertanda hormat dan terima kasih.

“Terima kasih, Nyonya. Semoga Allah membalas kebaikan Nyonya kepada saya.”

“Sudahlah. Segera kabari pamanmu. Jika kau telah mendapatkan dana untuk operasi adikmu.”

Arsip Cerpen di Indonesia