Aku masih termenung di tepi meja kafe. Lalu mendadak, aku mengutuki diri sendiri yang memilih singgah sebentar membuang penat setelah berjam-jam terkurung dalam pesawat. Aku tidak menemukan apa yang kucari. Tetapi, aku hanya menemukan keasingan lain seperti sama kurasakan juga saat di Berlin. Merasa jengah dengan perasaan sendiri, aku melempar sorotan ke langit. Hujan masih menaruh gerimis pada gedung-gedung serta jalanan yang selalu sibuk. Aku sekali lagi memperhatikan detil-detil kecil dari diorama kota yang telah lama kutinggalkan. Yang kulihat hanya orang-orang yang bergegas; tatapan pilu wajah-wajah bisu yang menyimpan kemurungan masing-masing; laju kendaraan yang semakin padat dan tergesa seperti dikejar waktu.
“Kota ini bagai pesta yang gagal mengakhiri gemanya sendiri,” pekikku lagi masih dalam hati.
Untuk menghibur dir sendiri, aku meraih buku catatan dan sebuah pensil di dalam tas. Sekilas aku memandangi kertas itu. Tanpa kontrol, tanganku bergerak di atas permukaan kertas polos itu. Aku tak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi pada diriku? Karena secara tidak sadar, tanganku melukis sebuah rumah kecil dengan bunga-bunga di halaman depannya. Syahdan, tidak tertinggal, Ibu yang sedang menyiram setiap kuncup bunga itu. Aku seolah sedang melukis kenanganku sendiri di atas kertas.
“Sejauh-jauhnya kau pergi, suatu saat pasti akan pulang! Karena seorang petualang pun selalu memiliki rumah, di mana ada orang yang terus memikirkannya.”Aku kembali mendengar suara Ibu dari balik kertas itu.
Ingatan di kepalaku seperti scanner saat melihat gambaranku sendiri di kertas itu. Kenanganku juga bagai dipanggil untuk melukiskan lagi adegan saat Ibu melambaikan tangan ke arahku dengan tampuk mata merah melelehkan kesedihan. Semua itu masih terekam jelas pada slideslide ingatanku. Begitulah. Setelah pengertian merentangkan jarak, lantas ruang dan waktu menelurkan rindu, hari ini aku ingin pulang. Aku ingin memeluk Ibu seraya mengecup punggung tangannya.
“Silakan diminum, Mas!” Kata seorang pelayan wanita yang memecahkan lamunanku.
Aku mengangguk dan mengucapkan, ‘terima kasih’ kepadanya. Pelayan itu lalu pergi lantas keheningan kembali membekap. Aku memperhatikan antara minuman serta kertas di meja. Berganti-gantian. Pelan-pelan. Kemudian, aku menggenggam kuping cangkir untuk mendekat. Mencecap minuman itu pelan. Aroma jahe yang khas meresap pada lidah dan tenggorokkan. Mendadak, tubuh yang semula kedinginan menjadi hangat.