Aku pun melongokkan pandangan ke kedalaman cangkir minuman. Aku memandang air kekuningan serta gurat wajah yang perlahan menua. Tanpa kusangka, seperti ada yang mendorongku masuk ke dalam cangkir itu. Aku terperosok pada ingatan masa kecil di rumah. Memoriku terpelanting kembali saat berlarian turun tangga tergopoh- gopoh berebutan dengan kakakku menuju dapur. Kemudian, Ibu tersenyum mendapati kami merengek meminta bagian lebih dari minuman yang ia bikin. Sebuah minuman sederhana yang terbuat dari rebusan jahe dan gula. Minuman yang menjadi perekat kebersamaan kami di rumah. Karena, sering sembari meminum air ramuan jahe yang hangat, Ibu bercerita padaku dan kakak.
“Tidak ada yang abadi di dunia ini. Kau tidak perlu memaksakan segala sesuatu, karena kita sebenarnya tidak sedang mencari apa pun. Jadilah orang yang sederhana dengan hati yang baik. Dengan itu kelak akan banyak orang memikirkanmu,” katanya seperti menceramahi diri sendiri.
Ahh, dengung suara itu. Aku mendengar suara Ibu lagi. Suara yang terasa begitu dekat dan lembut.
***
Di luar, hujan masih turun. Aku menggeloyor keluar kafe. Termenung menunggu taksi. Tidak begitu lama, taksi datang dan mengantarku ke terminal. Sesampai di terminal, aku terburu-buru masuk bis yang segera akan berangkat. Bis melenggang membelah hujan menuju kotaku. Di tengah perjalanan, aku kembali termenung sembari menatap hujan. Aku memperhatikan rintik-rintik hujan yang turun teratur. Tangan dan pensil di tangan kembali bergerak ajaib. Tanpa sadar aku sudah melukis sebuah meja makan sederhana. Aku juga membumbuhkan tiga orang yang duduk menatap hidangan di meja. Dari lukisan itu, aku mendengar teriakan-teriakan lirih.
“Jangan berebut! Kue serabinya masih banyak!” Suara itu terdengar semakin dekat. Bahkan seperti berada di sampingku.
Dan di tengah lamunan, seketika tercium aroma sedap kuah serabi. Aku menghirup aroma parutan kelapa dan air gula yang manis. Aku mengerling ke tepi jalan, dan melihat sebuah warung serabi kecil di sana. Banyak orang berkumpul di warung itu. Mereka duduk santai menyantap makanan. Sekejap hati bergetar. Aku ingat serabi buatan Ibu. Makanan yang selalu Ibu hidangkan saat aku dan kakak bertengkar. Makanan yang membuat kami menjadi keluarga yang utuh.
“Kalian harus berbagi walau sedikit,” aku ingat nasihat Ibu. “Makanan terasa lebih enak kalau menikmatinya bersama-sama.”