Renjana

Air mataku menitik. Ingin lekas bertemu Ibu. Namun, bis masih merayap pelan di jalan karena macet. Aku makin gelisah menatap hujan dan keramain di luar. Di tengah kemacetan itu, dari radio yang diputar supir, aku mendapat berita bahwa baru saja terjadi bencana di kampungku. Tsunami besar baru saja melahap kampungku yang berada di pesisir pantai. Mendengar itu, aku panik. Aku cepat-cepat menelepon Ibu ke rumah—walau kenyataannya, aku ingin memberikan kejutan dengan kedatangan yang mendadak.

Terus aku memanggil Ibu. Aku gelisah menunggu jawaban dari teleponnya. Tetapi operator selalu mengatakan kalau nomer telepon Ibu di luar jangkauan. Perasaanku makin tak karuan. Terlebih, saat si penyiar radio menyatakan banyak korban jatuh. Aku semakin panik. Tapi untungnya, tidak lama kemudian, sebuah nomer asing meneleponku. Dari suaranya, aku cepat bisa menganal kalau itu Ibu.

“Hallo?” Kata Ibu.

“Ibu?”

“Iya, Nak. Ini Ibu.”

“Ibu baik-baik saja kan? Aku sekarang sedang dalam perjalanan pulang.”

Ibu sempat diam di ujung telepon itu. Lalu Ibu berkata lagi, seolah gemas dengan anaknya: “Kau anak nakal. Pergi bertahun-tahun, baru pulang sekarang. Tapi syukurlah, rinduku sampai juga padamu, Nak.”

“Maafkan aku, Ibu.”

“Cepatlah datang. Semua orang sudah menunggumu.”

Ibu menutup telepon. Memang tidak seperti biasanya ketika menelepon Ibu berbicara sesingkat itu. Namun, aku tidak peduli. Aku merasa lega dengan keadaan Ibu yang baik-baik saja setelah bencana.

***

Ada pemandangan yang berbeda saat aku sampai di rumah. Rumah-rumah yang rubuh, kubangan air, dan gelimpangan mayat di tepi jalan. Tangis juga mendengung tiada putus di setiap sudut. Sesampai di dalam rumah, aku mendapati keramaian dengan wajah-wajah yang sama murungnya seperti wajah-wajah di jalan.

Kakak sudah menungguku di halaman rumah yang hancur.

“Di mana Ibu, Mas?” Tanyaku kapada kakak.

Katanya lemah, “Ibu meninggal saat bencana terjadi. Dia baru saja dikuburkan hari ini. Kami tak sempat menunggumu pulang.”

Aku tergeregap. Aku tak percaya mendengar berita itu. Kakak mengatarku ke kuburan Ibu. Di tepi makam Ibu, aku terduduk linglung seraya berpikir: Siapa yang meneleponku satu jam yang lalu? Apakah Ibu menghubungiku dari surga? (*)

 

Risda Nur Widia. Penulis. Cerpennya telah tersiar di berbagai media.

Arsip Cerpen di Indonesia