Gambar

Lalu senjata-senjata itu mereka kumpulkan. Agus Dobleh membawanya ke dapur Mbah Mo, ia menyimpannya di antara kayu-kayu yang menumpuk di dapur. Ia beranjak.

***

Di mata Mbah Mo, anak-anak yang sering bermain di belakang rumahnya seperti percik-percik yang membakar gairah masa lalu. Anak yang sering bermain tembak-tembakan hingga kejadian-kejadian itu selalu menyelami mata Mbah Mo lebih dalam.

Di belakang rumahya, Mbah Mo seperti melihat dirinya lagi. Anak-anak yang saling serang. Anak-anak yang larut dalam kemerdekaan. Anak-anak yang ingin merasakan segala pertempuran.

Mbah Mo adalah pahlawan yang sudah uzur. Sudah tujuh puluh tahun lalu ia ikut berperang. Dan sekarang tubuhnya telah terkikis tahun. Badannya yang tegak tinggal otot-otot yang menonjol dari kulit keriputnya. Badannya bungkuk. Waktu telah mengubah segalanya, membawa sisa-sisa perang, serpihan yang pelan-pelan menghapus namanya. Ia adalah potret pahlawan yang kehilangan kedigdayaannya di mata waktu. Ia terbenam, seperti tubuhnya yang bungkuk, nasib memberat di punggungnya.

Setiap kali melihat anak-anak bermain tembak-tembakan, Mbah Mo lantas hanya bisa terdiam, duduk di kursi kayu, sembari menatap gambar yang menggelantung kelam itu.

“Sudah to Pak, gambar itu diturunkan saja. Diganti yang baru. Kenapa gambarnya masih yang itu-itu terus. Bukankah Bapak pernah bilang, hidup itu harus maju dan sesekali saja menengok ke belakang. Bukankah seharusnya begitu. Bapak sendiri juga harus melangkah, bukan larut dalam gambar. Gambar itu akan terus ada di dalam hati kita, Pak, sekalipun wajah-wajah lain akan menggantikannya. Maka Bapak harus berani menghadapi kenyataan, bukan meratapinya.”

Suara Minah merangkak pelan ke arah Mbah Mo. Suaranya serupa tangan-tangan mengulur ke dalam hatinya. Ia tidak menoleh, memaku, di hadapan gambar yang dipasung di ruang tamu, pada dinding bambu, tepat di atas televisi yang tidak lagi menyala.

Setiap kali Mbah Mo menatap gambar itu. Setiap melihat seorang laki-laki berpeci dengan wajah yang penuh kemenangan itu, hatinya mendadak lengang. Ada yang kosong, ada yang tiba-tiba menjerat. Menyeretnya pada gelombang masa lalu yang amat sulit dijelaskan, bahkan terhadap dirinya sendiri. Ia mendadak menjelma burung-burung yang kehilangan sayap dan lunglai di sarangnya. Di dalam dadanya, harapan-harapan tidak lebih dari kenangan yang kedinginan. Yang berulang kali digapai, tapi seperti burung-burung itu, ia telah kehilangan angin.

Arsip Cerpen di Indonesia