“Ia sudah mengajari bagaimana caranya merebut dan mengibarkan kemerdekaan di tiang tertinggi. Semangat dan darah-darah itu adalah bukti ketulusan. Tapi waktu begitu saja mengubah orang-orang menjadi sosok yang pelupa. Mereka selalu sibuk berdebat, berebut untuk mengisi, padahal mereka hanya mengisi dirinya sendiri.” kata-kata Mbah Mo bergaung di dalam dadanya. Dada seorang lelaki tua yang merasa berulang kali dikecewakan. Ya, dikecewakan waktu.
Kemudian dengan menahan sesak dada, Mbah Mo beranjak. Ia menatap gambar itu. Wajah seorang lelaki berparas puluhan tahun lalu. Wajah yang akan terus berkobar dan menyala. Lalu dengan menaiki bangku, ia mengambil gambar itu. Gambar yang bagi Minah hanyalah bayang-bayang usang di ruang tamu.
Dengan langkah yang terbata, ia pergi ke luar. Di sebuah pohon jambu yang tidak lagi berbuah, ia menggantungkan gambar itu pada seranting waktu. Ranting yang ditinggalkan daun-daun dan burung-burungnya.
Angin pun bertiup pelan. Wajah lelaki itu nyelip, di antara sesak dan hiruk pikuk. Lalu dalam perasaan terbakar, berbisik pelan, “Andai mengisi kemerdekaan ini sesederhana kata-katamu.”
Tiba-tiba terlempar suara berisik anak-anak, diikuti teriakan lantang, “Tembak, tembak”. Mendengar itu, Mbah Mo lantas berjalan ke pekarangan belakang rumah, ia melihat Agus Dobleh sudah tersungkur karena tembakan seseorang mengenai lengannya. Dari kejauhan Eko Klewer berlari sambil menembakkan peluru ke arah lawan. “Merdeka,” ucapnya lantang. Mbah Mo seperti melihat dirinya dulu. Ia tenggelam dalam cipratan masa lalu.
Jejak Imaji, 2018
Angga T. Sanjaya, lahir di Wonosari, Gunungkidul pada 7 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa Pascasarjana UNY. Mengajar di SMPMuhammadiyah 1 Gamping. Kini tinggal di Yogyakarta. Bergiat di komunitas “Jejak Imaji”.