Gambar

Mbah Mo menatap Minah. Matanya seperti lorong jauh dan gelap, yang tak pernah selesai Minah jelajahi. Dan Minah tahu, di dalam lorong itu, hanya kekosongan, hanya lengang. Minah tak pernah sampai pada ujung. Ia selalu tersesat di dalamnya.

“Pak, masa lalu itu ya cuma masa lalu to. Dan laki-laki digambar itu tidak akan pernah datang lagi. Semua sudah selesai. Sekarang Bapak harus percaya selalu ada harapan bagi kita.” Mbah Mo diam saja. Ia masih saja melihatnya begitu dalam, begitu jauh. Gambar itu seperti jembatan pada dua pulau waktu. Pulau yang tidak akan pernah habis disusuri pedih perihnya.

“Bapak harus tau loh, setiap orang punya caranya sendiri-sendiri. Tak akan selalu semua kayak kemauan Njenengan, Pak. Hidup musti terus ditiup. Terus diikuti ke mana arah angin. Hanya saja tidak boleh menjadi debu, yang melayang tapi penuh kekosongan. Bapak harus mengisi kekosongan itu. Dengan cara menerima kenyataan. Ya to, Pak, kenyataan.”

“Tapi, Pak, kok ya ndak nyadar-nyadar. Zaman terus berubah. Itu dulu. Semangatnya sudah lain. Sudah beda waktu. Sekarang kita bukan bicara soal perjuangan Pak, tapi mengisinya. Maka Bapak kudu mengisi kekosongan Bapak juga. Jangan tiap waktu melihat gambar itu terus-terusan. Kapan mau maju.”

“Yang tak kamu mengerti, termasuk orang-orang di luar itu, bahwa mengisi bukan cuma soal belajar menjadi pinter. Mengisi berarti mengingat, meresapi, dan lebih penting memahami ke mana langkah harus dipijak. Harus punya tujuan to, Buk. Kemerdekaan akan tumpul, seperti saat ini, sebab tidak ada yang mau lagi melihat masa lalu. merenungi, dan menaruhnya dalam-dalam jauh di lubuk hati. Mereka harus merasa sebagai bagian dari masa lalu. Mereka lahir dari perut waktu, rahim sejarah. Ingat itu.”

Mbah Mo mengantar tubuhnya ke kursi kayu. Ia duduk di hadapan Minah, kali ini ia melihat Minah bagai jarum tajam, begitu dalam.

“Maksud Minah, Pak. Bapak harus berani menyingkirkan rasa tidak terima Bapak. Bukan untuk melupakan lelaki di gambar itu. Kalau tiap hari Bapak begini, bagaimana generasi muda setelah Bapak. Apa harus selalu menyesali waktu? Bukan to Pak. Waktu bukan untuk disesali tapi dirangkai dan terus dirangkai. Jangan biarkan kekosongan Bapak menular ke anak-anak muda di kampung loh, Pak. Apalagi Bapak adalah tetua, sikap Bapak jadi panutan. Bapak harusnya jadi contoh generasi yang berkobar, seperti nyala api di mata lelaki itu Pak.”

Minah bergegas ke kamar. Meninggalkan Mbah Mo yang memaku. Diam. Ia seperti tengah bertarung dengan kata-kata Minah yang kini menjelma musuhnya.

Arsip Cerpen di Indonesia