Lelaki yang Menunggu Kepulangan Istrinya

Gemetar Tarmo memandangi sebuah bingkai foto keluarga. Di sana sosok itu seolah tersenyum manis menyambut kepulangannya. Ia balas tersenyum. Setidaknya foto itu mampu mengurangi rasa rindu sekaligus kehilangan akan dirinya yang telah pergi. Tarmo mengembuskan napas kasar. Seketika badannya terasa lemas. Kedua kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya sendiri. Ia pun terduduk di lantai. Berusaha mengatur deru napasnya yang kian tak beraturan.

“Sebaiknya Papa merekrut seorang pembantu di rumah ini. Supaya ketika Papa pulang mengajar tidak perlu lagi repot-repot mencari makan,” ujar Fiola, putri sulungnya.

“Dengan adanya pembantu di rumah ini, setidaknya bisa mengurangi rasa sepi di rumah ini, Pa,” kata Citra, putri bungsunya yang tak kalah antusias menasihati.

Ia tidak butuh pembantu. Yang dibutuhkannya hanyalah keluarga. Anggota keluarganya yang meliputi kedua putrinya, kedua menantu, dan juga cucu-cucunya yang baru melewati masa kanak-kanak. Dulu, ia selalu mengimpikan kebahagiaan bersama cucu-cucunya saat memasuki usia tua. Oleh karena itu, ia sengaja membuat rumah besar lengkap dengan segala fasilitas mewah di dalamnya.

Namun sayang, impiannya tak bisa diwujudkan. Terlebih setelah istrinya pulang ke tempat keabadian. Setelah berhasil mengatur deru napasnya. Ia berdiri perlahan. Entah sejak kapan air matanya itu tumpah. Yang jelas, wajahnya teramat basah saat ini.

Sebuah kamar yang berada di lantai satu tepat di sebelah ruang salat merupakan tujuan selanjutnya. Rasa lapar yang diakibatkan oleh cacing-cacing di perutnya tidak dipedulikan. Suasana gelap segera menyambut kedatangannya. Tidak sulit baginya menemukan sakelar lampu kamar yang cukup luas itu.

Rak-rak terbuka yang diisi berbagai macam jenis dan judul buku tertata rapi. Menguar aroma kertas yang baru dan juga lama dari setiap sudut rak-rak yang berisi buku tersebut. Di sudut ruangan ada sebuah meja yang digunakan untuk meletakkan komputer serta laptop keluaran terbaru. Ia berjalan mendekat. Semakin dekat dengan kursi kayu yang menghadap ke layar monitor, semakin kuat pula getaran di kakinya. Bulir-bulir bening yang sedari tadi bergerombol di kelopak matanya kian memberontak ingin segera keluar.

Disentuhnya kursi kayu itu dengan penuh kasih sayang. Matanya dipejamkan, membayangkan rupa pemilik kursi yang acap kali duduk di sana sembari menatap layar monitor yang ada di depannya.

Arsip Cerpen di Indonesia