Lelaki yang Menunggu Kepulangan Istrinya

Diedarkan pandangan ke sekeliling. Kegelapan mulai menyelimuti rumah. Hanya kamar yang dijadikan sebagai tempat menulis istrinya diterangi oleh cahaya lampu yang redup. Dalam gelap, samar-samar ia melihat ada seseorang yang berjalan mendekat. Tubuhnya gelap, mungkin karena lampu di ruangan sekitar belum dinyalakan. Sosok hitam yang berjalan mendekat semakin terlihat.

Sosok itu tersenyum. Memamerkan barisan gigi-giginya yang putih dan rapi. Senyum yang sangat dirindukan oleh Tarmo. Ia membalas senyuman itu. Segera tangannya direntangkan lebar-lebar, bersiap memeluk sesuatu yang sangat dirindukannya itu sekarang juga. Akan tetapi, ketika sosok itu sudah berada tepat di depannya. Saat kedua tangannya kembali dirapatkan agar bisa memeluk erat tubuh itu. Kekosongan yang didapatkan. Tidak ada siapa pun yang datang. Senyum yang tadinya tampak merona segera memudar. Berganti gelap dan kesunyian.

Di luar, hewan malam mulai berdendang. Bersyukur kepada Tuhan atas kehidupan yang dijalani. Tarmo terduduk lemas. Jari-jemari tangannya meremas pahanya sendiri. Kesal, sedih, dan kehilangan bercampur menjadi satu. Kegelapan telah kembali. Datang dan menawarkan sunyi. Tarmo hanya bisa terus menunggu. Menunggu kepulangan istrinya meskipun ia tahu hal itu mustahil terjadi.

Ia juga merindukan bisingnya suara papan tik yang bergesekan kasar dengan jari-jari tangan istrinya yang lentik. Hanya menunggu yang bisa dilakukan. Jika istrinya tak bisa lagi kembali menemui dirinya. Ia berjanji akan sabar menunggu dalam hening datangnya malaikat maut yang akan menjemputnya. Mengantarkan ke sebuah tempat di mana istrinya telah menunggu di alam yang baru. Sebuah kebahagiaan terus dipanjatkan dalam doa-doa dan sujud panjang setiap malam. Menunggu. Meskipun Tarmo bersikeras menyadarkan diri sendiri bahwa istrinya telah pergi dan tidak akan pernah pulang kembali, tetap saja ia akan terus menunggu kedatangan istrinya membawa malaikat maut datang menjemput.

Mekar Sari, Dharmasraya

Riyan Prasetio. Lahir dan dibesarkan di Ranah Minang membuat semangatnya menggebu untuk terus berkarya terutama dalam bidang sastra. Beberapa karyanya pernah tersiar di koran Singgalang, Haluan, dan Padang Ekspres. Salah satu cerpennya yang berjudul “Sekeping Senja di Langit Dharmasraya” menjadi cerpen terbaik dalam lomba menulis Aksara tahun 2016 yang diselenggarakan oleh Deakin University of Australia, bekerja sama dengan penerbit Angkasa Bandung.

Arsip Cerpen di Indonesia