Lama sekali permukaan tangannya mengusap kursi kayu penuh kenangan itu. Pikirannya terus melayang. Berusaha merengkuh kembali sesuatu yang teramat berharga yang menghilang dari hidupnya. Ia menangis. Tidak peduli seberapa tua umurnya untuk menangisi sebuah kenangan yang teramat berharga.
Tak puas hanya dengan menyentuh kursi kayu, didudukinya kursi itu. Merasakan betapa nyaman duduk menghadap layar monitor yang gelap. Butuh waktu beberapa menit untuk bisa menormalkan kembali perasaan sedih yang menjalar ke seluruh tubuh. Hingga akhirnya ia menghidupkan komputer itu. Layar monitor berkedip-kedip. Dikeluarkan papan tik yang tersimpan di laci meja.
Dengan gerakan lamban, jari-jemarinya menyentuh papan tik. Ada yang hilang dalam hidupnya. Tiada terdengar lagi berisiknya papan tik yang beradu dengan jari-jari tangan istrinya yang lentik. Biasanya ia menunggu di karpet sembari memeriksa tugas maupun lembar jawaban ujian anak didiknya di karpet tak jauh dari tempat istrinya mengetik, merangkai, menulis sebuah cerita.
Komputer itu kini telah kehilangan tuannya. Bahkan ia sempat membelikan laptop baru beberapa hari sebelum istrinya itu berpulang. Istrinya sempat marah. Katanya laptop baru tidak akan terpakai karena lebih nyaman mengetik dengan papan tik dan juga menatap layar monitor selebar empat belas inci itu ketimbang jemari istrinya bergerilya di papan tik laptop yang menurutnya lebih sempit dan tidak bisa leluasa itu. Belum lagi radiasi yang dihasilkan laptop katanya jauh lebih berbahaya.
Jadilah laptop itu akhirnya dialih fungsikan menjadi bioskop mini di ruangan itu. Tempat ia dan istrinya bisa menonton film setelah mendownload dari internet. Sayang, kebahagiaan itu hanya bisa dirasakan sekejap. Kini, tawa itu berubah menjadi hening. Keheningan yang teramat menyayat. Senyum yang biasanya terlihat berganti udara kosong yang berputar-putar di sekitar ruangan.
Tarmo menggerakkan tetikus. Matanya yang basah memudarkan pandangan. Samar-samar terlihat nama file yang dicarinya. Segera dibuka lembar kenangan yang semakin menyesakkan dada. Kenangan yang ditinggalkan oleh istrinya setelah hijrah menjadi penulis. Tulisan-tulisan itu masih tersimpan rapi. Diejanya setiap kata yang tertulis. Namun, sebanyak kata yang dibacanya, sebanyak itulah rasa rindunya tumbuh.
“Sayang ….”
Mendengar ada suara yang memanggil ia segera menoleh. Mendapati pintu ruangan yang tertutup karena tertiup angin. Tak ingin istrinya bingung karena ruang kerjanya tertutup, Tarmo bergegas membuka pintu ruangan itu kembali. Rambut-rambut halus yang tumbuh di permukaan kulitnya berdiri. Ada sesuatu yang menyentuhnya dengan lembut. Tarmo membiarkan hal itu terjadi begitu saja. Tak peduli ada makhluk halus yang mencoba merayunya. Toh, tubuhnya sudah menua. Kegagahannya sudah lenyap tertelan waktu dan kerasnya kehidupan.