Akhirnya kami ikut berdiri bersama orang-orang yang menikmati gerimis. Aku lihat rambut hitam Sinta mulai basah. Tangannya beberapa kali mengusap muka. Membersihkan wajahnya dari bulir air yang mengalir. Segera kulepas jaket jin biruku. Kepala kami pun menelusup di bawahnya. Malam itu kami pulang dengan keadaan kuyub.
***
Di pertemuan kedua ini, aku lebih sering mendengarkan Sinta bicara. Selain memang tak pandai bicara, kukira memandangi Sinta pun sudah cukup bagiku.
“Baiklah beri tahu aku tentang kekuranganmu.” Aku menjawab perkataan yang tadi Sinta lontarkan.
Sinta berkata, semua orang pasti mempunyai kekurangan. Bukan hanya satu atau dua. Pasti banyak. Hanya, orang-orang terlalu pandai menutupinya. Maka orang lain melihat mereka seolah sempurna tanpa cacat. Sinta memberi tahuku bahwa dia juga mempunyai banyak kekurangan. Sinta akan memberi tahuku dengan pinta aku bisa menerimanya sepaket dengan kelebihan yang dia miliki.
Setelah aku sepakat, Sinta memberi tahuku. Di antara kekurangan-kekurangan yang dia ucapkan, salah satunya yaitu muntah. Sinta bilang kalau dia mudah muntah. Terlebih jika sedang naik kendaraan umum atau mencium bau yang tidak dia sukai.
Pertemuan demi pertemuanku dengan Sinta terus berlanjut. Sampai sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Dan semua yang Sinta ucapkan dulu benar saja terjadi. Saat kami bersama, Sinta sering muntah. Pertama kali Sinta muntah di depanku saat kami dalam perjalanan ke Jogja naik bus untuk berlibur. Saat itu seperti biasa, Sinta terlihat cantik. Beberapa penumpang laki-laki tertangkap oleh mataku mencuri pandang ke arah Sinta. Namun, saat perjalanan sudah cukup jauh, Sinta menjadi diam. Wajahnya terlihat pucat. Tangan kirinya memegang perut, sementara yang kanan menutup mulut.
“Aku mau muntah,” bisiknya pelan di telingaku.
Sinta mengeluarkan plastik hitam dari dalam tasnya. Beberapa detik selanjutnya “hooeeekkk”. Wajah Sinta sudah tidak cantik lagi. Orang-orang yang tadi melihat Sinta karena kecantikannya, berubah memandang jijik. Aku mengurut kuduknya. Bunyi “hooeeek” lanjut terdengar. Plastik hitam yang mulanya kosong, menjadi terisi. Aku memegang plastik itu, terasa hangat di tanganku. Sinta mengeluarkan tisu dari dalam tasnya. Mengusap lendir yang menempel di sudut bibirnya.
Sinta pernah muntah di bioskop. Juga pernah muntah saat kami sedang makan. Juga di rumahku, di acara resepsi pernikahan temanku. Sinta muntah di banyak tempat. Sebelum muntah, Sinta biasa berkata padaku dia mencium bau yang tidak dia suka. Pernah pada suatu kali sehabis muntah Sinta bertanya padaku.