Masih Adakah Kesetiaan

Bulan April sudah di penghujung. Hujan jadi sering turun. Sebuah perjalanan harus mempunyai tujuan. Sore itu di salah satu tempat makan di pinggir kota, Sinta bertanya padaku apakah aku tidak ingin menikahinya? Aku sebenarnya sudah memikirkan hal itu. Tentang masa depan hubunganku dengannya. Namun, aku tak mengira jika Sinta menanyakannya saat itu juga. Namun menjadi wajar karena usia kami sudah masuk dalam usia menikah. Teman-temanku juga sudah banyak yang berumah tangga, banyak juga yang sudah mempunyai anak. Saat itu aku menjawab tentu aku ingin menikahinya. Jawaban itu keluar begitu saja dari bibirku.

Di malam-malam setelah pertemuanku dengan Sinta itu, pikiranku penuh sesak dengan pertanyaan, apakah aku akan menikahi Sinta? Apakah Sinta akan menjadi istriku? Apakah aku akan menghabiskan sisa usiaku dengannya? Apakah Sinta benar jodohku? Ada keraguan yang muncul. Memang benar aku mencintainya. Soal orang tua kami, kukira sudah bukan masalah. Juga soal keuangan atau tetek bengek lainnya. Namun ada perasaan ganjil lain yang membuatku ragu. Aku seperti tidak yakin padanya. Semua pikiran dan perasaanku itu muncul menyerangku seperti deras hujan yang turun di luar rumah.

Bulan Juli tiba beriringan dengan musim kemarau. Cuaca yang mulanya selalu basah dan dingin beralih menjadi terik dan kering. Aku dan Sinta telah resmi menjadi suami-istri. Hubunganku dengannya terhitung hanya enam bulan hingga kami menikah. Meskipun mulanya aku ragu, toh aku memutuskan melamarnya. Selain karena Sinta terus menanyakan kejelasan, di sisi lain aku memang benar mencintainya.

Seharusnya setelah pernikahan itu, aku bahagia. Memang awalnya aku bahagia. Namun, perasaan kecewa menyelimuti perasaanku di malam pertama kami. Malam pertama yang aku bayangkan akan berlangsung mengasyikkan ternyata berujung pahit.

“Maafkan aku, Mas. Aku baru bisa jujur padamu sekarang,” jawab Sinta setelah aku tanya mengenai perutnya. Sementara aku hanya terdiam, melihat perut Sinta yang sudah membesar, mengandung janin orang yang tidak kutahu siapa.

 

Anggoro Kasih, lahir di Karanganyar, Jawa Tengah. Pernah menuntut ilmu di FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia UNS. Sekarang aktif di komunitas sastra Kamar Kata. Bukunya yang sudah terbit kumpulan cerpen berjudul Kesepian yang Membunuh (Nomina, 2018). Beberapa cerpennya dimuat media cetak maupun online.

Arsip Cerpen di Indonesia