“Apa kamu tidak malu dan jijik karena aku sering muntah?” Sinta juga meneruskan “Kamu kalau mau ninggalin aku enggak apa-apa.”
“Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu. Terlebih hanya karena kamu sering muntah,” jawabku.
Jawabanku itu bukan sebuah pelega atau rayuan. Aku memang benar tidak masalah dengan Sinta yang sering muntah. Aku sepertinya sudah menerima kekurangannya. Bukan hanya soal muntah. Kekurangan lain seperti, cengeng dan manja juga sudah aku terima. Malah aku seperti menganggap itu bukan lagi kekurangan. Aku seperti sudah terbiasa, rasanya beberapa hal itu sudah menjadi bagian dari hidupku. Lagi pula Sinta juga tidak pernah keberatan denganku yang pemalas, bau badan dan tidak konsisten. Sinta sudah menerima semua kekuranganku. Dan justru aku malah khawatir dengan Sinta yang sering muntah. Kebiasaan muntahnya itu kupikir bisa disembuhkan. Maka pernah suatu kali aku mengajaknya untuk pergi ke dokter.
“Sayang, habis ini ke dokter saja yuk. Aku tidak tega melihatmu begini.” Aku mengajukan tawaran itu saat aku dan Sinta sedang jalan-jalan di mal.
“Tidak usah, Sayang. Aku enggak apa-apa,” jawab Sinta.
Dan itu bukan penolakan pertama. Karena sudah sering aku mengajak Sinta untuk pergi ke dokter. Namun, Sinta selalu menolak dengan berbagai macam alasan.