“Ini menambah keyakinan saya bahwa kiamat akan segera datang!”
“Bener banget, Pak! Apalagi lusa itu hari Jumat. Bukankah katanya hari kiamat itu terjadi pada hari Jumat?”
“Astaghfirullah.. ya sudah, saya mau ke mushala dulu!”
“Kan waktu shalat masih lama?”
“Saya mau ngaji dulu. Assalamualaikum…!”
“Wa’alaikumsalam…”
Di mushala, meskipun waktu masuk shalat Zhuhur masih sekitar dua jam lagi, mushala sudah dipenuhi warga. Ada yang mengaji, ada yang shalat sunah, berzikir, atau ada juga yang tertidur karena kelelahan. Dan saat waktu shalat masuk, isi mushala langsung luber. Biasanya jamaah penuh kalau shalat Tarawih pada hari pertama bulan Ramadhan atau shalat Jumat, tetapi shalat jamaah beberapa hari ini jamaah mushala di kampung kami penuh sesak.
Haji Markum senang sekali melihat perubahan yang terjadi pada umat di kampungnya. Beliau bersyukur karena warga sudah menyadari arti pentingnya shalat berjamaah. Karena shalat berjamaah itu pahalanya lebih tinggi 27 derajat daripada shalat sendirian.
“Tapi Pak Haji, semua ini dilakukan warga karena mereka takut akan datangnya hari akhir!”
“Ya enggak apa-apa. Seharusnya mereka bukan hanya takut akan datangnya hari akhir, tetapi juga karena takwa mereka. Takwa dalam arti sebenar-benarnya, yakni mengerjakan hal-hal yang diperintah oleh Allah SWT dan meninggalkan larangannya.”
“Pak Haji sendiri, apa Pak Haji enggak takut sama datangnya hari akhir?”
“Mengapa mesti takut…? Hari akhir itu akan datang dan kita tidak akan mampu mengelaknya!”
Warga yang bertanya makin ketakutan dan dia langsung pamit. Mau ke mushala.
***
Sehari sebelum datangnya kabar akan datangnya kiamat, yakni pada hari Kamis malam Jumat, banyak warga yang tidak tidur. Mereka giat beribadah, baik di rumah maupun di mushala.
“Pada hari kiamat, matahari akan terbit dari sebelah barat!” demikian kata salah satu pemuda kepada warga yang sedang duduk-duduk di teras mushala.
“Kita enggak akan bisa sembunyi!”