Menunggu Kiamat Datang

Lalu semua warga bergegas ke rumah Haji Markum. Haji Markum kaget melihat warga berbondong-bondong ke rumahnya. Lelaki tua yang duduk di dekatnya tampak tenang, tapi tak bisa menyembunyikan keheranannya melihat banyak sekali warga yang datang.

“Ada apa, ini…?” tanya Haji Markum kepada warga.

“Pak Haji gimana, sih? Kata Pak Haji hari ini kiamat datang? Mana? Kami sudah menunggunya dari kemarin lusa!”

Haji Markum pun berubah tersenyum, lalu dia memberikan isyarat kepada lelaki di sebelahnya. Lelaki ini mungkin umurnya lebih tua dari Haji Markum. Beliau mengenakan baju koko putih dan berpeci.

“Saudara-saudara sekalian… perkenalkan… ini Ki Amat!! Ki Amat itu ustaz saya waktu di pesantren!”

Semua warga terbelalak.

“Oh… jadi yang datang itu Ki Amat…??!”

“Ya, Ki Amat! Nama panjangnya Ustaz Ahmad Fahroji, tapi kami memanggilnya dengan sebutan Ki Amat…”

Semua warga langsung lemas. Mereka mengira yang datang itu kiamat alias hari akhir. Ternyata yang datang Ki Amat, Ustaznya Haji Markum.

***

Siangnya, setelah Ki Amat pamit, Haji Markum mengajak tetangganya ke mushala karena waktu Zhuhur akan segera tiba. Namun, tetangganya bilang, dia lagi sibuk berkebun. Haji Markum ke mushala sendirian, berharap nanti akan shalat berjamaah bersama dengan warga lainnya seperti biasa. Sepanjang jalan, Haji Markum dikejutkan dengan aktivitas warga yang sudah berubah dari hari kemarin. Meskipun waktu shalat Zhuhur sebentar lagi datang, masih banyak warga yang nongkrong di warung, main kartu di pos ronda, asyik nonton TV atau main HP, bahkan yang sedang menyabung ayam. Yang main HP langsung bikin status, “Kiamat ternyata hoax”.

Setibanya di mushala, Haji Markum bertambah terkejut. Karena mushala kosong. Haji Markum pun menabuh beduk sendiri, azan sendiri, lalu shalat sendiri. ■

 

Tangerang Selatan, 2019

Zaenal Radar T. Menulis cerita untuk media cetak dan elektronik. Buku terbarunya yang telah terbit; Si Markum (Penerbit Alvabet 2017).

Arsip Cerpen di Indonesia