Nuri

Betapa hangat perasaan Nini Laba tatkala anaknya pulang. Nuri tampak anggun saat memperagakan jas putih dengan stetoskop. Nuri ialah pelita yang terus-menerus dinyalakan sebagai estafet harapan kedua orangtuanya yang baru punya anak di usia cukup tua. Semua tanah, kebun, dan emas dijual demi kuliah Nuri yang tinggal menghitung beberapa bulan. Apa pun mereka lakukan, meski rumah semakin miring, dan renovasi terakhir dilakukan ketika Nuri lulus SMP.

Sekarang pertengahan Juni semakin dekat, Nini Laba giat mencari tambahan uang untuk memanjakan anaknya ketika ada di rumah. Ia tahu, anaknya senang makan juhu singkah dengan wadi patin dan sambal kandas. Jadi, pelan-pelan, ia membeli daging patin beberapa potong di pasar Selasa. Beberapa pedagang heran melihat kedatangan Nini Laba yang lusuh dan jarang. Beberapa mempergunjingkannya, kebanyakan melontar penasaran dalam tatap.

Akan tetapi, Nini Laba tidak peduli. Ia tetap melanjutkan belanja ke dua daftar berikutnya, beras ketan dan garam batu. Setelah itu, ia pulang ke dapurnya yang rikuh dan menyangrai ketan untuk dicampurkan pada patin berlumur garam di dalam stoples.

Dalam pikiran Nini Laba, Nuri akan datang membawa berita gemilang. Ia akan kembali bercerita tentang susahnya menghafal simtom dan pertanda penyakit tertentu. Nini Laba sesungguhnya tidak paham, tetapi ia coba dengar setulus mungkin.

“Nak, tidak mandi?” tanya Nini Laba. Anaknya mulai semakin enggan turun ke batang. Entah karena jijik melihat kotoran dari jamban mengambang, atau mencium getah karet yang direndam setelah dikeraskan. Kai Djamal akhirnya membuat titian di bawah rumah yang diakses dengan pintu tingkap di lantai dapur. Sekalian, kata Nini Laba, sebagai tempat mencuci piring dan membilas baju.

Sekarang rasanya sudah lama sekali sejak titian itu dipijak. Dua papan kayunya berderit, hampir lapuk, dan lembek dikulum air pasang. Jadilah Nini Laba bersiasat dengan menampung air hujan dalam gentong lusuh pemberian tetangga yang memiliki bisnis air isi ulang dan jual-beli pulsa. Kadang menimba air dari sungai, lalu mengisi ceruk-ceruk kosong sampai ke ember yang bibirnya pecah dan rapuh.

“Boleh aku numpang menelepon?” tanya Nini Laba pada tetangga yang memberi gentong. Melihat Nini Laba sering diam dan bolak-balik membuat penjual itu iba meski heran. Sedikit enggan, ia sodorkan telepon genggam.

Nini Laba memencet nomor yang selalu disimpannya baik-baik di balik lipatan tapih. Kemudian menunggu, menunggu, dan menunggu. Tidak ada jawaban. Nuri sibuk. Itu yang selalu dipikirkan Nini Laba. Jadi, ia hanya mengirimkan pesan agar anaknya mengabarkan diri jika hendak pulang.

***

Arsip Cerpen di Indonesia