Kapan terakhir Nuri mengingatkan mereka? Nini Laba menerawang. Atap sirapnya lama tidak diganti hingga bolong di sana-sini. Ada gantungan baju bekas kerja yang tercemar getah di dinding, juga jas putih, dan celana hitam panjang bekas Nuri di semester awal dulu. Anaknya meninggalkan itu semua di rumah karena ingin membeli yang baru. Di liburan terakhirnya, saat Nuri hendak pulang menyeberang sungai dengan kapal.
Setelah itu batang mereka tenggelam. Jukung terakhir musnah ditelan pasang. Tidak ada lagi kendaraan di air. Lagi pula Kai Djamal tidak membutuhkannya. Sudah tidak ada ladang di seberang sana untuk diurus. Semua sudah ia jual untuk perkebunan sawit.
***
Tanggal 15 Juni. Nini Laba memasak wadi banyak-banyak, semua makanan disusunnya sedemikian rupa agar menarik dan mengundang nafsu makan. Kai Djamal hanya bisa menatap pedih itu semua.
“Anakku calon dokter.”
“Iya.”
“Kenapa dia belum datang?”
“Nanti sebentar lagi,” Kai Djamal menyabarkan. Berbeda dengan Nini Laba, sang suami mengenakan setelan baju muslim lengkap dengan peci dan buku surah Yasin di tangan. “Kita jemput Nuri, ya.”
Nini Laba terdiam. Tiba-tiba saja ia ingat kenapa anaknya terasa sangat lama pulang. Kenapa ada ruang kosong di dinding. Kenapa perahunya tidak lagi tertambat di rumah. “Nuri akan pulang.” Ia terus meyakini itu.
“Kita akan mendatanginya.”
“Anak kita dokter.”
“Ayo pergi.”
Jas putih lusuh. Stetoskop rusak di dekat pengukir karet. “Nuri anakku, dia dokter.”
“Kita akan makan di sana bersama Nuri.”
Nini Laba menangis, lagi. Untuk kesekian kalinya di tanggal 15, ia mendapati kenyataan berputar-putar dalam kepalanya. “Anakku tahu gejala dan tanda penyakit. Dia dokter,” raungnya. Kai Djamal cuma bisa memeluk perempuan renta itu dibarengi tatapan Nuri, dari bingkai foto yang dimakan kusam. (M-2)
Thiya Rahmah, pegiat literasi di komunitas Dimensi Kata.