Foto-foto Nuri menguning di ruang tamu. Walau dibersihkan setiap hari, debu tetap erat menempel seperti kenangan di benak Nini Laba. Ia rindu anaknya, tetapi tak bisa berbuat apa-apa selain menanti.
Tidak ada gambar baru, terakhir rekam hanya saat Nuri berhasil masuk tes fakultas kedokteran. Setelah itu kosong. Dinding tampak tidak seimbang di satu sisi. Nini Laba ingin menyimpan ruang itu untuk kelulusan anaknya nanti.
“Nanti kalau anak kita sudah jadi dokter, kita akan jadi orangtua dokter,” cerita Nini Laba. Berbeda dari istrinya, Kai Djamal tidak antusias dan sibuk menganyam tikar rotan di bawah temaram lampu lima watt.
“Kita akan pindah ke kota.”
“Hmm.”
“Kita akan tinggal di rumah beton dengan isi garasi mobil.”
“Iya.”
“Anak kita akan jadi kebanggaan kampung. Orang-orang pasti iri.”
Kai Djamal meminum tehnya yang hambar, lalu lanjut menganyam.
“Kalau kita sakit, tidak usah bayar.” Nini Laba terus mengkhayal.
Khayalan itu semakin dekat mendekati waktu kelulusan Nuri. Nini Laba tidak bisa menahan senyum. Ia sengaja mendatangi gerombolan ibu-ibu yang sedang mencari kutu dan membicarakan anaknya. Mengatakan ia akan jadi yang pertama dan satu-satunya orangtua dokter.
Anehnya, mereka tidak ambil pusing, terus sibuk menindih mati kutu-kutu dengan kedua kuku mereka.
“Anakku sebentar lagi lulus. Ia akan jadi dokter betulan,” nyanyi Nini Laba. Ia menghitung tanggal dengan teliti seolah menunggu masa subur. Sementara itu, wadi-nya semakin masak di dalam toples. Kepala ikan mencuat dari permukaan amis air asin yang pekat. Kedua bola matanya bulat membesar. Ungu, hampir kehitaman. Terkupas di beberapa bagian. Daging-dagingnya lembek dan lepas mencari tambatan sendiri di dasar genangan.
Nini Laba bangga karena wadi buatannya adalah yang terenak di antara semua masakan. Asin, gurih, dan lumer di mulut. Nuri suka makan nasi hangat dengan wadi, meski mengeluh, orangtuanya harus jaga asupan garam agar tidak hipertensi.