“Kalau begitu saya pikir-pikir dulu, Pak. Jika berkenan, saya akan kembali lagi,” ujar Karjo tersenyum getir.
Sebetulnya hati dan otaknya memaksa untuk tetap kos di tempat tersebut. Hanya saja uangnya tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari jika tetap memaksakan diri. Jadilah Karjo meninggalkan halaman rumah calon tempat kosnya itu dengan raut sedih. Terlebih hatinya yang mendadak senyap karena tak tahu ke mana lagi harus mencari kos.
Hingga azan magrib terdengar dari toa-toa masjid dan musala. Tempat kos yang dicarinya belum juga ketemu. Jika tempatnya bagus dan nyaman, kondisi kantong celananya yang tidak memungkinkan. Namun, ketika menemukan harga kos yang murah, ternyata oh ternyata, tempatnya jorok. Sampah-sampah dibuang sembarangan. Tampak lalat hijau yang ukurannya terlalu besar bagi seekor lalat terbang hilir-mudik, keluar-masuk ke dalam kamar-kamar kos dengan bebasnya. Karjo bergidik ngeri melihatnya.
Mulutnya mendadak mual demi melihat betapa joroknya para penghuni kos yang ia temui itu. Mencari kos yang murah juga menginginkan tempatnya bersih dan nyaman. Terlebih dengan fasilitas yang mumpuni akan sangat sulit didapat jika calon penghuninya enggan mengeluarkan uang bulanan lebih banyak. Mana ada di era yang semakin canggih seperti sekarang bisa terbeli dengan harga murah kualitas prima. Barang akan sesuai dengan jumlah uang yang dikeluarkan pula tentunya.
“Sedang mencari tempat kos, Nak?” tanya seorang bapak yang rambutnya didominasi warna putih.
Karjo mengangguk lemah. Semangat yang tadinya membara padam begitu saja karena setiap kali mendapatkan tempat kos idaman, harganya selangit. Jika menemukan kos murah, kebersihannya yang tidak terjamin.
“Jika berkenan singgahlah ke hunian saya, Nak. Mana tahu cocok.”
“Bapak punya kosan?” selidik Karjo semringah.
Dipandanginya sosok yang tak lagi muda itu dari puncak kepala sampai ujung jemari di kakinya. Ia bahkan tidak menyangka sosok yang terlihat kumuh itu punya kos. Karjo tahu betul bahwa orang-orang yang menyewakan tempat kos bukanlah orang miskin yang kekurangan materi. Untuk membuat satu petak kos saja butuh dana puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Apalagi setiap kos ada puluhan petak kamar yang siap dihuni.