Melangkahlah Karjo mengikuti ke mana orang yang menawarinya tempat kos itu pergi. Dari belakang tercium bau bangkai yang menyengat. Hanya saja Karjo memilih mengabaikannya. Ia tidak mau menyinggung perasaan bapak yang ada di depannya.
Tak berselang lama. Sampailah Karjo pada sebuah bangunan tingkat dua. Bapak itu mengajaknya menuju lantai dua. Karjo yang berjalan di belakang memelototkan matanya. Mengamati keadaan sekitar dengan saksama. Bunga-bunga yang ada di teras kos lantai satu tertata rapi. Lantai keramik di teras juga mengilap. Dengan tong sampah yang tertutup rapat sehingga tidak menguarkan bau busuk yang khas.
Sesampainya di koridor lantai dua. Karjo mendapati lantai keramik di koridor tersebut tampak mengilap. Kesan rapi dan terlihat cantik saat mendapati di depan setiap sudut kamar terdapat satu buah pot yang tertanam bunga mawar di sana. Kebetulan bunga-bunga itu sedang bermekaran. Menambah kesan cantik yang semakin membuat Karjo terkesima.
Tatkala bapak tadi membuka kamar kos. Karjo semakin merasa yakin bahwa ia akan betah menempatinya. Setelah berdiskusi panjang lebar dengan si empunya kos. Terjadilah kesepakatan yang menerbitkan senyum bahagia di bibir Karjo. Akhirnya ia mendapatkan kos yang diimpikan. Tak lupa Karjo membayar uang muka sebagai jaminan bahwa ia benar-benar akan menempati kamar yang telah dilihatnya tadi. Bahkan, pemilik kos langsung memberikan kunci kamar supaya Karjo bisa lekas pindah.
Saking tidak sabarnya untuk pindah. Karjo bergegas ke kosnya yang lama. Mengangkut semua barang miliknya ke tempat kos yang baru. Menjelang tengah malam barulah pekerjaan pindah-memindahkan barang selesai. Karjo yang kelelahan menyempatkan duduk di bangku kayu yang ada balkon lantai dua. Disulutnya rokok sembari memandangi jutaan bintang yang berpendar menemani rembulan.
Malam semakin pekat. Kesunyian dengan ganasnya datang menghampiri. Entah kenapa perasaan bahagia yang tadinya menggelora berganti gelisah. Angin yang berembus tak lagi bersahabat menyentuh kulit. Lamat-lamat tampak sosok berjalan mendekat di lantai bawah. Karjo yang tidak mau dirinya ketahuan, segera menyembunyikan diri ke dalam toilet. Ia sempat mengintip seseorang yang menaiki anak tangga menuju lantai dua. Tepat menghampiri keberadaannya. Hanya saja orang itu memilih berbelok ke dalam koridor.
Pelan Karjo melangkahkan kakinya. Tak mau menimbulkan suara gaduh yang membuat orang itu menaruh curiga. Dari jarak lima meter ia sempat mengintip orang itu membuka pintu kamar di sebelah kamarnya. Tangannya menggenggam kantong kresek berukuran besar yang digunakan untuk membawa sesuatu.