Penghuni Sebelah

Tatapan mata Karjo pun langsung tertuju pada kantong kresek itu. Kresek yang dibawanya itu meneteskan air. Entah apa yang dibawanya Karjo tak tahu pasti. Setelah memastikan orang yang merupakan penghuni kamar sebelah itu masuk. Barulah Karjo memberanikan diri untuk melihat tetesan yang membekas di lantai keramik depan pintu kamar penghuni sebelah.

Berbekal lampu sorot kamera ponsel miliknya. Karjo menyelediki tetesan yang belum mengering di lantai keramik.

“Darah!” pekiknya ketika melihat cairan berwarna merah tercecer di depan pintu kamar penghuni sebelah.

Gemetar tubuh Karjo menatap apa yang seharusnya tidak dilihatnya. Saat knop pintu diputar dari dalam. Berlari Karjo masuk ke dalam kamarnya. Mulutnya terkunci rapat dengan kedua kakinya yang goyah tak sanggup menopang tubuhnya sendiri.

Malam itu juga Karjo mengemasi barang yang sekiranya bisa dibawa pergi. Ia tidak mau mati karena ternyata penghuni sebelah kamarnya adalah pembunuh. Sejak saat itu Karjo tak kembali ke tempat itu meski barangnya masih banyak yang tertinggal.

 

Mekar Sari, Dharmasraya

Arsip Cerpen di Indonesia